Monday, March 31, 2014

analisis lemak

BAB V
ANALISIS LEMAK

A. Pre-lab

1.Bagaimana prinsip analisis kadar lemak dengan metode soxhlet?
Prinsip Soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin balik (Darmasih,1997).


2.Mengapa metode soxhlet disebut metode penetapan lemak kasar?
Dalam analisis lemak, sulit untuk melakukan ekstraksi lemak secara murni. Hal itu disebabkan pada waktu ekstraksi lemak dengan pelarut lemak, seperti phospholipid, sterol, asam lemak bebas, pigmen karotenoid, dan klorofil. Oleh karena itu, hasil analisis lemak ditetapkan sebagai lemak kasar (Sudarmadji,2010)


3. Bagaimana prinsip pengukuran bilangan peroksida dengan metode titrasi?
Bilangan peroksida sebagai jumlah asam lemak teroksidasi ditentukan berdasarkan jumlah iodine (I2) yang terbentuk dari reaksi peroksida dalam minyak dengan ion (Indra,2012)


4. Bagaimana prinsip penetapan kadar asam lemak bebas metode titrasi?
Kadar asam lemak bebas menunjukkan jumlah asam lemak bebas dalam sampel dan merupakan parameter mutu minyak/lemak atau produk pangan yang mengandung lemak / minyak. Karena bersifat asam, kadar asam lemak bebas ditetapkan berdasarkan prinsip titrasi asam basa dalam medium etanol. Alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa. Alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral (Lukum,2006).

5.Apa yang dimaksud dengan bilangan peroksida?
Bilangan peroksida adalah indeks jumlah lemak atau minyak yang telah mengalami oksidasi Angka peroksida sangat penting untuk identifikasi tingkat oksidasi minyak.
Bilangan peroksida didefinisikan sebagai miliequvalen (mEq) peroksida per kg sampel (Soebagyo,2005)        


6.Apa yang dimaksud dengan asam lemak bebas?
Asam lemak bebas adalah asam lemak yang berada sebagai asam bebas tidak terikat sebagai trigliserida. Asam lemak bebas dihasilkan oleh proses hidrolisis minyak dan oksidasi biasanya bergabung dengan lemak netral (Mahmud,2008)




























B.      Diagram Alir/ flowchart
  1. Kadar Lemak Metode Soxhlet

  Bahan

 




Kacang merah, kacang tanah dan pisang hijau dikeringkan

5 g sampel dimasukkan kertas saring + kapas

Kertas saring dibungkus dan ditali

Ekstraktor pada soxhlet dan bagian atas dalam diberi vaselin


45 ml potreleum
           eter
                                                  eter

                                                              Sampel dimasukkan                       
 


Dipasang di soxhlet dan alatnya dinyalakan

Dilakukan refluks selama 5 jam

Labu dikeringkan dalam oven selama 2 jam 105o C

Dimasukkan ke dalam desikator selama 15 menit

Ditimbang

  Hasil


 


Hasil

  1. Bilangan Peroksida

Bahan

 



                                                                             

10 g sampel minyak ditimbang ke dalam erlenmeyer 250 ml
 



Ditambahkan 30 ml pelarut asam asetat glasial : kloroform (3:2), dikocok hingga semua minyak larut
 



Ditambahkan 0,5 ml larutan KI jenuh dan dibiarkan 1 menit sambil dikocok
                                                                                             

Ditambahkan 30 ml akuades
                                                                                       

Ditambahkan indikator amilum dan iodin dititrasi dengan larutan Na-Tiosulfat 0,1 N
                                                                                             

Titrasi berakhir sampai warna biru mulai menghilang
 



Dilakukan pengerjaan untuk blanko seperti cara diatas hanya tidak menggunakan sampel minyak
 



Angka peroksida dinyatakan sebagai miliekuivalen peroksida dari setiap 1000 g sampel

Hasil


 





  1. Kadar  Asam  Lemak  Bebas

Bahan

 




Sampel ditimbang 10 g dan dimasukkan ke erlenmeyer 250 ml

Ditambahkan 50 ml alkohol 95% dan ditambah 3 tetes larutan indikator PP 1%

Dititrasi dengan larutan KOH 0,05 N sampai terbentuk warna merah jambu yang permanen
                                                                                   

Hasil
 B.      Hasil dan Pembahasan
1.      Kadar Lemak Metode Soxhlet
No.
Nama sampel
Berat sampel
Berat
labu soxhlet
Berat sampel+labu
Berat lemak (gram)
% lemak
1.
Kacang tanah
5,0400
33,5608
35,7913
2,2305
44,25 %
2.
Kacang merah
5,0000
39,1944
34,4882
0,2938
5,876 %
3.
Pisang hijau
5,0400
36,3520
36,6626
0,3100
6,15 %


% kadar lemak = berat lemak x100 %                               berat sampel
                            

Perhitungan
Rumus Perhitungan :



1.   Kacang tanah
Kadar lemak = 2,2305 x 100 %
                                 5,0400
                           = 44,25 %

2.   Kacang merah
Kadar lemak = 0,2938 x 100 %
                               5,0000
                           = 5,876 %

3.   Pisang hijau
Kadar lemak = 0,3100 x 100 %
                               5,0400
                           = 6,15 %

a.   Apa yang terjadi jika penghilangan sisa pelarut setelah ekstraksi dengan soxhlet dilakukan dengan pemanasan dalam oven yang terlalu lama?
Yang terjadi ialah akan terlalu banyak zat yang dihilangkan bahkan selai sisa pelarut.  Akan ada lemak yang ikut dihilangkan sehingga akan memengaruhi berat lemak sebagai hasil akhir.    
b.  Mengapa ekstraksi soxhlet dihentikan jika pelarut sudah berwarna jernih?
Karena jika pelarut sudah berwarna jernih itu merupakan pertanda lemak yang diinginkan sudah terekstraksi tanpa adanya air atau pelarut lagi didalamnya sehingga proses ekstraksi dapat dihentikan.
c.   Pelarut apa yang dapat Saudara gunakan untuk mengganti dietil eter? Apa kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pelarut tersebut !
Pelarut yang dapat digunakan ialah potreleum éter . kelebihannya ialah pelarut ini mudah menguap, dapat melarutkan lemak karena merupakan pelarut non polar, dapat mengekstraksi lemak, selektivitas terhadap lemak tinggi, dan titik didih yang rendah. Kekurangannya lebih sulit didapatkan dari dietil éter.
d.   Apakah semua jenis lipid terdeteksi sebagai lemak pada análisis lemak dengan metode soxhlet?
Iya dapat terdeteksi karena sebagian besar atau hampir seluruhnya lipid mengandung lemak yang dapat dianalisis dengan metode soxhlet.

2.      Bilangan Peroksida

No.
Nama sampel
Berat sampel
Volume Na2S2O3 (ml)
Bilangan peroksida
1.
Minyak Merk
10,0018
1,1 ml
10,998 mek/kg
2.
Minyak curah
10,0034
0,8 ml
7,997 mek/kg
3.
Margarine
10,0648
15,2 ml
151,02 mek/kg

Perhitungan
Rumus perhitungan :

Bilangan Peroksida (mek/kg) = (Vtitrasi sampel-Vtitrasi blanko) x Normalitas x 1000
                                                                                          Berat sampel (g)

 



1.   Minyak Merk
Bilangan Peroksida (mek/kg) = 1,1 ml x 0,1 N x 1000
                                                                     10,0018
                                                         = 10,998 mek/kg

2.   Minyak curah
     Bilangan Peroksida (mek/kg) = 0,8 ml x 0,1 N x 1000
                                                                     10,0034
                                                         = 7,997 mek/kg

3.   Margarine
Bilangan Peroksida (mek/kg) = 15,2 ml x 0,1 N x 1000
                                                                     10,0648
                                                         = 151,02 mek/kg

a.   Apa fungsi Na-tiosulfat dalam analisis bilangan peroksida?
    Na-tiosulfat berfungsi menitrasi iodium (I2) terbebas dari hasil reaksi sejumlah minyak dengan campuran asetat : khloroform (2 : 1) yang mengandung KI. Titik akhir titrasi adalah ketika terbentuk watna bening setelah terbentuk warna biru (keruh) karena merupakan tanda semua I2 yang diikat pati telah diikat oleh Natrium tiosulfat yang berfungsi sebagai reduktor.
b.  Mengapa indikator yang digunakan adalah amilum?
Pati atau amilum berfungsi sebagai indikator karena struktur pati memerangkap I2 merupakan indikasi banykanya peroksida (peroksida mengoksidasi KI menjadi I2 yang diukur dengan titrasi Natrium Tiosulfat).
c.   Mengapa titrasi dihentikan ketika warna biru hilang?
Karena hilangnya warna biru keruh menjadi warna bening merupakan pertanda semua I2 yang diikat pati telah diikat oleh Na (Natrium Tiosulfat). Maka banyaknya natrium tiosulfat adalah asumsi banyaknya I2 yang dilepaskan / peroksida yang terdapat pada sampel.

3.      Kadar Asam Lemak Bebas
No.
Nama sampel
Berat sampel
Volume NaOH (ml)
Jenis dan BM Asam Lemak
Kadar ALB (%)
1.
Minyak Merk
10,0116
3,8 ml
256
0,458 %
2.
Minyak Curah
10,0513
3,2 ml
256
0,407 %
3.
Margarine
10,1245
5,6 ml
256
0,715 %

Perhitungan
Rumus perhitungan :

Kadar asam lemak bebas (%) = ml NaOH x Normalitas x BM asam lemak x 100 %
                                                                      Berat sampel (g) x 100

 



1.      Minyak Merk
Kadar asam lemak bebas (%) = 3,8 ml x 0,05 N x 256 x 100 %
                                                                        10,0116 x 1000
                                                                 = 0,458 %
2.      Minyak Curah
Kadar asam lemak bebas (%) = 3,2 ml x 0,05 N x 256 x 100 %
                                                                        10,0513 x 1000
                                                                 = 0,407 %
3.      Margarine
Kadar asam lemak bebas (%) = 5,6 ml x 0,05 N x 256 x 100 %
                                                                        10,1245 x 1000
                                                                 = 0,715 %

  1. Mengapa dalam analisis kadar asam lemak bebas digunakan pelarut alkohol?
Karena alkohol dapat melarutkan asam lemak bebas serta melepaskan kerja enzim  amilase sebelum titrasi.
  1. Apakah semua asam lemak  bebas terekstrak oleh alkohol pada analisis asam lemak bebas dengan metode titrasi?
Iya semua asam lemak bebas terekstrak dengan metode titrasi karena semua zat yang bersifat asam tersebut dapat dinetralkan oleh titrasi dengan basa. Dalam hal ini NaOH sebagai titrat yang menetralisisir asam pada ketiga sampel diatas.
  1. Apakah basa selain KOH dapat digunakan pada penetapan kadar asam lemak bebas?
Iya, basa selain KOH dapat digunakan misalnya NaOH. Karena disini fungsi basa tersebut sebagai penetral sifat asam dari asam lemak bebas.
  1. Mengapa kadar asam lemak bebas didasarkan pada berat molekul asam lemak yang dominan?
Karena berat molekul yang dominan lebih dapat mewakili data yang akan dipakai sebagai acuan pada sampel – sampel yang lain.
  1. Mengapa indikator yang digunakan fenolftalein/PP?
Indikator yang digunakan ialah indikator PP darena indikator ini mempunyai spektrum basa yang lebih lebar daripada asamnya.

PEMBAHASAN
Kadar lemak metode soxhlet
Prinsip Soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin balik. Ketika pelarut dididihkan, uapnya naik melewatu soxhlet menuju ke pipa pendingin. Air dingin yang dialirkan melewati bagian luar kondensor mengembunkan uap pelarut sehingga kembali ke fase cair, kemudian menetes ke thimbel. Pelarut melarutkan lemak dalam thimble, larutan sari ini terkumpul dalam thimble dan bila volumenya telah mencukupi, sari akan dialirkan lewat sifon menuju labu. Proses dari pengembunan hingga pengaliran disebut refluks. Proses ekstraksi lemak kasar dilakukan selama 6 jam. Seletah proses ekstraksi selesai, pelarut dan lemak dipisahkan melalui proses penyulingan dan dikeringkan.
Rumus perhitungan kadar lemak metode soxhlet ialah sebagai berikut :


% kadar lemak = berat lemak x100 %                               berat sampel
                            

 



            Analisa prosedur dari penentuan kadatr lemak metode soxhlet ialah bahan yang digunakan antara lain eter (dietil eter), selongsong kertas, sampel berupa kacang merah, kacang tanah, dan pisang hijau. Alat yang digunakan antara lain alat ekstraksi soxhlet lengkap dengan kondensor dan labu lemak, oven, timbangan analitik, desikator. Fungsi reagen potreleum eter ialah melarutkan pelarut non polar, mengekstraksi lemak, selektivitas terhadap lemak tinggi dan titik didih yang rendah.
Kacang merah, kacang tanah, dan pisang hijau dihaluskan, diambil 5 gram dibungkus kertas saring yang diatasnya sudah diberi kapas kemudian dibungkus serta ditali secara vertikal dan horisontal. Ekstraktor dan bagian dalam atas diberi vaselin lalu sampel dimasukkan ke dalam soxhlet. Setelah itu ditambahkan potreleum eter sebanyak 45 ml dan dipasang disoxhlet. Kemudian alat dinyalakan dan dilakukan refluks selama 5 jam. Setelah itu potreleum eter tertampung. Labu dikeringkan dengan oven selama 2 jam pada suhu 105o C kemudian dimasukkan desikator selama 15 menit lalu ditimbang.
Menurut departemen kesehatan RI 1996, kadar lemak dalam 100 gram kacang tanah ialah sebesar 42,8 %, sehingga angka ini tidak jauh berbeda dengan hasil praktikum yang hasilnya sebesar 44,25 %.namun adanya perbedaan ini karena komposisi kacang tanah dipengaruhi oleh varietas, lokasi geografis dan kondisi pertumbuhan serta bisa juga di sebakan karena berat bahan yang berbeda. Menurut Histifarina,2012 kadar lemak pisang segar sebanyak 0,33 %, sedangkan pada hasil praktikum dihasilkan kadar lemak sebanyak 6,15 % yang berarti sangat jauh berbeda. Hal ini disebabkan karena ukuran pisang, kadar air yang terkandung dan proses yang dilakukan juga berbeda.
Faktor yang memengaruhi ekstraksi metode soxhlet ialah jenis pelarut dimana Setiap pelarut organik mempunyai polaritas yang berbeda. Pelarut yang mempunyai polaritas paling sesuai dengan polaritas lemak akan memberikan hasil ekstraksi lebih baik; proses pengeringan sampel dimana proses ini akan menghasilkan bobot sampel yang nantinya dapat memengaruhi kadar lemak pada sampel; keberadaan senyawa terlarut juga memengaruhi karena bisa jadi sampel yang didapat mengandung zat terlarut dan itu bisa memangaruhi hasil kadar lemak; ukuran partikel dimana pengecilan ukuran adalah untuk memperluas permukaan sehingga ekstraksi lemak lebih efisien; kadar air akan berpengaruh karena jika sampel banyak air maka kadar lemaknya bisa jadi semakin rendah.
Bilangan Peroksida
            Prinsip analisis ini ialah penentuan bilangan peroksida dengan pengukuran ion atau I2 yang dibebaskan oleh KI. Ion akan dilepaskan oleh KI akibat reaksi oksidasi dan peroksida pada sampel. Dalam media larutan asam asetat glasial banding kloroform 3 : 2. Rumus bilangan peroksida ialah sebagai berikut :

Bilangan Peroksida (mek/kg) = (Vtitrasi sampel-Vtitrasi blanko) x Normalitas x 1000
                                                                                          Berat sampel (g)

 



Analisa prosedur bilangan peroksida meliputi bahan yang digunakan antara lain sampel berupa minyak merk, minyak curah, dan margarine, pelarut asam asetat glasial : kloroform (3:2). Kalium iodida jenuh, natrium tiosulfat 0,1 N, indikator amilum, akuades. Alat yang digunakan antara lain pipet ukur 1 ml & 10 ml, gelas beaker 100 ml, pipet tetes, neraca analitik, biuret, erlenmeyer 250 ml, dan stirer/shaker. Reagen yang digunakan antara lain pelarut asam asetat glasial : kloroform 3 : 2 sebagai pelarut I2 yang dilepaskan dari KI yang kemudian akan dititrasi dengan Natrium Tiosulfat. Asam asetat glacial dapat menyediakan kondisi pH yang sesuai dengan reaksi KI dengan peroksida kemudian sifat kloroform yang dapat melarutkan lemak, maka komponen lemak lainnya terpisah dari peroksida. KI jenuh dapat bereaksi dengan peroksida dimana I2 akan dilepaskan karena oksidasi dan peroksida. Peroksida mengoksidasi KI menghsilkan I2. Aquades sebagai penyedia H+. larutan pati 1 % berfungsi sebagai indikator karena struktur pati memerangkap I2 merupakan indikasi banykanya peroksida (peroksida mengoksidasi KI menjadi I2 yang diukur dengan titrasi Natrium Tiosulfat). Natrium Tiosulfat 0,1 M bereaksi dengan I2 yang bebas dan berfungsi sebagai reduktor.
Menurut Siti Aminah,2010 bilangan peroksida pada minyak segar sebanyak 4,28 meq/kg dimana bilangan peroksida menunjukkan kecenderungan meningkat dengan semakin banykanya pengulangan penggorengan. Bilangan peroksida hasil praktikum sebanyak 10,998 meq/kg yang menunjukkan banyak perbedaan. Hal itu terjadi karena perbedaan suhu dimana penggunaan suhu yang tinggi selama penggorengan memicu terjadinya oksidasi. Pada minyak curah, Minyak curah terdistribusi tanpa kemasan, paparan
oksigen dan cahaya pada minyak curah lebih besar dibanding dengan minyak kemasan. Paparan oksigen, cahaya, dan suhu tinggi merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi oksidasi. Menurut Farihah, 2004 bilangan peroksida pada minyak goreng curah sebesar 9,6 meq/ kg sedangkan pada hasil praktikum sebanyak 7,977 mek/ kg.
            Faktor yang memengaruhi analisis ini antara lain jumlah pengurangan penggorengan dimana semakin sering minyak digunakan untuk menggoreng maka bilangan peroksida juga semakin tinggi; suhu penggorengan dimana semakin tinggi suhu yang digunakan maka akan memacu banyak oksidasi yang memengaruhi bilangan peroksida; adanya oksigen berarti menunjukkan kemungkinan terjadi oksidasi; ketidakjenuhan asam lemak dimana asam lemak yang jenuh lebih mudah mengalami oksidasi; dan adanya antioksidan yang dapat mengurangi nilai dari reaksi oksidasi.
Kadar asam lemak bebas
            Prinsip metode ini ialah penentuan asam lemak bebas yang ditunjukkan dengan warna pink pertama yang dapat bertahan selama 30 detik. Bahan yang digunakan meliputi sampel yang berupa minyak merk, minyak curah, dan margarine, alkohol 95%, larutan NaOH 0,05 N, indikator fenolftalein (PP) 1%. Alat yang digunakan antara lain neraca analitik, erlenmeyer 250 ml, biuret, gelas beaker 100 & 250 ml, pipet tetes dan gelas ukur. Reagen yang digunakan antara lain alohol melarutkan asam lemak bebas, melepas kerja enzim amylase sebelum titrasi. Indikator fenolftalein/ PP sebagai indikator, titik akhir titrasi adalah ketika terbentuk warna pink pertama kali yang bertahan lebih ari 30 detik. NaOH 0,05 N sebagai penetral sifat asam dari asam lemak bebas.
            Menurut Sri Murni,2013 kadar asam lemak bebas pada minyak goreng kemasan ialah sebesar 0,25 % sedangkan pada data hasil praktikum dihasilkan 0,485 %. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah FFA tidak sepenuhnya berperan dalam pembentukan dipol listrik yang juga degradasi mutu minyak.
            Faktor yang memengaruhi kadar asam lemak bebas antara lain penyerapan bau, lemak bersifat mudah menyerap bau; hidrolisis, dengan adanya air lemak dapat terhidrolisis menjadi gliserol dan asam lemak bebas; oksidasi dan ketengikan kerusakan lemak yang utama ialah timbulnya bau dan rasa tengik yang disebut proses ketengikan; adanya kegiatan enzim lipase yang terkandung didalam bahan dan berfungsi memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
KESIMPULAN
            Dari analisis lemak metode soxhlet ini dihasilkan % lemak paling rendah yaitu kacang merah dengan kadar lemak hanya 5,876 %, kemudian pisang hijau dengan kadar lemak sebesar 6,15 %, dan kadar lemak paling tinggi ada pada kacang tanah yaitu sebesar 44,25 %. Dari analisis bilangan peroksida dihasilkan miliekuivalen per kg paling rendah yaitu pada minyak curah yang hanya 7,997 mek/kg, kemudian minyak merk dengan miliekuivalen sebesar 10,998 mek/kg, dan miliekuivalen paling itnggi terdapat pada margarine dengan angka 151,02 mek/kg. Dari analisis asam lemak bebas dihasilkan kadar asam lemak bebas paling rendah yaitu pada minyak curah hanya 0,407 %, kemudian minyak merk dengan kadar asam lemak bebas sebesar 0,485 %, dan kadar asam lemak bebas paling tinggi terdapat pada margarine sebesar 0,715 %.
 
DAFTAR PUSTAKA

Darmasih. 1997. Prinsip Soxhlet. peternakan.litbang.deptan.go.id/user/ptek97-24.pdf. (diakses pada tanggal 25 Maret 2014)
Histifarina, D, dkk.2012. Teknologi pengolahan tepung dari berbagai jenis pisang Menggunakan cara pengeringan matahari dan mesin pengering. Agrin Vol. 16, No. 2
 Indra wibawa ds.  2012.  (online).  Ekstraksi cairan.   (http ://indrawibawads. files.wordpress. com / 201 2/01/ekstraksi-cair-indra-wibawa-tkim-unila.pdf) . (25 Maret 2014)
 Lukum. P. Astin. 2006. Bahan Ajar DDPA. Gorontalo : FMIPA UNG
Mahmud, Mien K. 2008. Tabel Komposisi Pangan Indonesia. Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Siti Aminah. 2010 BILANGAN PEROKSIDA MINYAK GORENG CURAH DAN SIFAT
ORGANOLEPTIK TEMPE PADA PENGULANGAN PENGGORENGAN.Jurnal Pangan dan Gizi Vol. 01 No. 01 Tahun  
Soebagyo . 2005. Kimia Analitik II. Malang : Universitas Negeri Malang
Sri Murni, dkk.2013. Evaluasi kualitas beberapa jenis minyak Goreng kemasan setelah dipanaskan Menggunakan sifat elektrooptis. Vol. 16, No. 3
Sudarmadji, S., B. Haryono dan Suhardi. 2010. Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta:Liberty

LAMPIRAN GAMBAR



Penentuan bilangan peroksida















Penetuan asam lemak bebas