KASUS KEP (KURANG ENERGI PROTEIN) DI
INDONESIA
Definisi KEP
KEP merupakan penyakit defisiensi gizi yang paling umum dijumpai di
dunia dan perkiraan 100 juta anak anak menderita gizi kurang pada tingkat
sedang dan berat. Kurang gizi ini disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan
protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi
(AKG). Dimana kondisi tersebut berlangsung dalam waktu yang lama. Keadaan ini
akan lebih cepat terjadi bila anak mengalami diare atau infeksi penyakit
lainnya.
Klasifikasi KEP
·
KEP ringan bila hasil penimbangan berat badan pada KMS terletak
pada pita warna kuning atau BB/U 70%-80%. Baku median WHO-NCHS. Kepada si
ibu harus dibantu untuk memperbaiki makanan anaknya. Ini dapat dilakukan dengan
meningkatkan konsentrasi energy dan protein dalam makanan anak yang
bersangkutan. Makanan dibuat lebih beragam
·
KEP sedang bila hasil penimbangan berat badan pada KMS terletak
di Bawah Garis Merah (BGM) atau BBU/U 60%-70% Baku median WHO-NCHS
·
KEP berat/gizi buruk bila hasil penimbangan BB/U <60% baku
median WHO-NCHS. Anak yang mengalami kasus ini harus dirawat di rumah sakit.
Penanganan untuk KEP berat ini ialah antara lain:
1.
Amati anak itu dan
telusuri latar belakangnya, periksa apakah ada xerophthalmia
2.
Periksa tingkat
dehidrasinya dan cara perawatannya
3.
Periksa ada tidaknya
parasite atau infeksi dan cara perawatannya
4.
Untuk kasus didaerah
malaria endemic dapat dilakukan pemberian pil khoroquin dilakukan secara rutin.
5.
Berikan injeksi
intramuscular Vitamin A 100.000 IU atau secara oral dengan dosis 200.000 IU
Vitamin A.
6.
Apabila hemoglobin
dibawah 3 gram per 100 ml, berikan transfuse darah
7.
Setelah itu berikan
perlakuan makanan segera setelah tidak ada dehidrasi.
Untuk kasus Indonesia, menurut data hasil pengukuran
antropometrik anak balita yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik tahun 1986,
menemukan angka status gizi buruk balita sebesar 1,72 % dan yang berstatus gizi
kurang (ringan dan sedang) ada 51,16 %. Hal tersebut merupakan suatu peringatan
bagi semua pihak terutaa petugas kesehatan dan gizi untuk segera tanggap
apabila menjumpai kasus gizi buruk.
Gejala klinis Balita KEP berat/Gizi buruk
Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang ditemukan
hanya anak tampak kurus. Gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar
dapat dibedakan sebagai marasmus, kwashiorkor atau marasmic-kwashiorkor. Tanpa
mengukur/melihat BB bila disertai edema yang bukan karena penyakit lain adalah
KEP berat/Gizi buruk tipe kwasiorkor.
Kwashiorkor (Acute Malnutrition)
·
Edema, umumnya seluruh tubuh, terutama pada punggung kaki
(dorsum pedis)
·
Wajah membulat dan sembab
·
Pandangan mata sayu
·
Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah
dicabut tanpa rasa sakit, rontok
·
Perubahan status mental, apatis, dan rewel
·
Pembesaran hati
·
Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada
posisi berdiri atau duduk
·
Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah
warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas (crazy pavement dermatosis
·
Sering disertai : penyakit infeksi, umumnya
akut; anemia; diare.
Marasmus (Chronic Malnutrition)
Marasmus (Chronic Malnutrition)
·
Tampak sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit
·
Wajah seperti orang tua
·
Cengeng, rewel
·
Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai
tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar)
·
Perut Cekung
·
Iga gambang
·
Sering disertai: penyakit infeksi (umumnya kronis
berulang), diare kronik atau konstipasi/susah buang air
Marasmik-Kwashiorkor
Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik
Kwashiorkor dan Marasmus, dengan BB/U <60% baku median WHO-NCHS disertai
edema yang tidak mencolok.
Penatalaksanaan
Prosedur tetap pengobatan
dirumah sakit : Prinsip dasar penanganan 10 langkah utama (diutamakan penanganan
kegawatan)
- Penanganan hipoglikemi
- Penanganan hipotermi
- Penanganan dehidrasi
- Koreksi gangguan keseimbangan
elektrolit
- Pengobatan infeksi
- Pemberian makanan
- Fasilitasi tumbuh kejar
- Koreksi defisiensi nutrisi
mikro
- Melakukan stimulasi sensorik
dan perbaikan mental
- Perencanaan tindak lanjut
setelah sembuh
Perawatan Medis
- Pada anak dan orang dewasa,
langkah pertama dalam pengobatan kekurangan energi protein (KEP) adalah
untuk mengoreksi kelainan cairan dan elektrolit dan untuk mengobati setiap
infeksi. Kelainan elektrolit yang paling umum adalah hipokalemia,
hipokalsemia, hypophosphatemia, dan hypomagnesemia.
- Pemberian makronutrien harus
dimulai dalam waktu 48 jam di bawah pengawasan spesialis gizi.
- Sebuah studi double-blind
dari 8 anak dengan kwashiorkor dan ulserasi kulit menemukan bahwa pasta
seng topikal lebih efektif dibandingkan plasebo dalam bidang penyembuhan
kerusakan kulit. Suplemen seng oral juga ditemukan efektif. Langkah kedua
dalam pengobatan kekurangan energi protein (yang mungkin tertunda 24-48
jam pada anak) adalah menyediakan macronutrients dengan terapi diet.
- Susu formula berbahan dasar
adalah pengobatan pilihan. Pada awal pengobatan diet, pasien harus diberi
makan ad libitum. Setelah 1 minggu, harga asupan harus mendekati 175 kkal
/ kg dan 4 g / kg protein untuk anak-anak dan 60 kkal / kg dan 2 g / kg
protein untuk orang dewasa. Sebuah multivitamin setiap hari juga harus
ditambahkan.
Pengobatan penyakit penyerta
- Defisiensi vitamin A Bila ada kelainan di mata,
berikan vitamin A oral pada hari ke 1, 2 dan 14 atau sebelum keluar rumah
sakit bila terjadi memburuknya keadaan klinis diberikan vit. A dengan
dosis :
- umur > 1
tahun
: 200.000 SI/kali
- umur 6 – 12
bulan : 100.000
SI/kali
- umur 0 – 5
bulan
: 50.000 SI/kali
- Bila ada ulkus dimata diberikan
: Tetes mata khloramfenikol atau salep mata tetrasiklin, setiap 2-3 jam
selama 7-10 hari, Teteskan tetes mata atropin, 1 tetes 3 kali sehari
selama 3-5 hari. Tutup mata dengan kasa yang dibasahi larutan garam faali
- Dermatosis Dermatosis ditandai adanya :
hipo/hiperpigmentasi, deskwamasi (kulit mengelupas), lesi ulcerasi
eksudatif, menyerupai luka bakar, sering disertai infeksi sekunder, antara
lain oleh Candida. Tatalaksana :
- kompres bagian kulit yang
terkena dengan larutan KmnO4 (K-permanganat) 1% selama 10 menit
- beri salep atau krim (Zn dengan
minyak kastor)
- usahakan agar daerah perineum
tetap kering
- umumnya terdapat defisiensi
seng (Zn) : beri preparat Zn peroral
- Parasit/cacing Beri Mebendasol 100 mg oral, 2
kali sehari selama 3 hari, atau preparat antihelmintik lain.
- Diare berkepanjangan Diobati bila hanya diare
berlanjut dan tidak ada perbaikan keadaan umum. Berikan formula
bebas/rendah lactosa. Sering kerusakan mukosa usus dan Giardiasis
merupakan penyebab lain dari melanjutnya diare. Bila mungkin, lakukan
pemeriksaan tinja mikroskopik. Beri : Metronidasol 7.5 mg/kgBB setiap 8
jam selama 7 hari.
- Tuberkulosis Pada setiap kasus gizi buruk,
lakukan tes tuberkulin/Mantoux (seringkali alergi) dan Ro-foto toraks.
Bila positip atau sangat mungkin TB, diobati sesuai pedoman pengobatan TB.
Tindakan kegawatan
- Syok (renjatan) Syok karena dehidrasi atau
sepsis sering menyertai KEP berat dan sulit membedakan keduanya
secara klinis saja. Syok karena dehidrasi akan membaik dengan cepat pada
pemberian cairan intravena, sedangkan pada sepsis tanpa dehidrasi tidak.
Hati-hati terhadap terjadinya overhidrasi. Pedoman
pemberian cairan :
- Berikan larutan Dekstrosa 5% :
NaCl 0.9% (1:1) atau larutan Ringer dengan kadar dekstrosa 5% sebanyak 15
ml/KgBB dalam satu jam pertama.
- Evaluasi setelah 1 jam :
- Bila ada perbaikan klinis
(kesadaran, frekuensi nadi dan pernapasan) dan status hidrasi ® syok
disebabkan dehidrasi. Ulangi pemberian cairan seperti di atas untuk 1 jam
berikutnya, kemudian lanjutkan dengan pemberian Resomal/pengganti, per
oral/nasogastrik, 10 ml/kgBB/jam selama 10 jam, selanjutnya mulai berikan
formula khusus (F-75/pengganti).
- Bila tidak ada perbaikan klinis
® anak menderita syok septik. Dalam hal ini, berikan cairan rumat sebanyak
4 ml/kgBB/jam dan berikan transfusi darah sebanyak 10 ml/kgBB secara
perlahan-lahan (dalam 3 jam). Kemudian mulailah pemberian formula
(F-75/pengganti)
- Anemia berat Transfusi darah diperlukan bila
: Hb < 4 g/dl atau Hb 4-6 g/dl disertai distress pernapasan atau tanda
gagal jantung. Transfusi darah : Berikan darah segar 10 ml/kgBB dalam 3
jam. Bila ada tanda gagal jantung, gunakan ’packed red cells’untuk
transfusi dengan jumlah yang sama. Beri furosemid 1 mg/kgBB secara i.v
pada saat transfusi dimulai. Perhatikan adanya reaksi transfusi (demam,
gatal, Hb-uria, syok). Bila pada anak dengan distres napas setelah
transfusi Hb tetap < 4 g/dl atau antara 4-6 g/dl, jangan diulangi
pemberian darah.
Konsultasi
- Konsultasi Setiap pasien pada
risiko kekurangan gizi harus dirujuk ke ahli diet atau profesional gizi
lainnya untuk penilaian gizi lengkap dan konseling diet.
- Arahan subspesialisasi lain
harus dipertimbangkan jika temuan dari evaluasi awal menunjukkan bahwa
penyebab mendasarnya bukan asupan gizi yang buruk.
- Jika tanda-tanda menunjukkan
malabsorpsi, pencernaan harus dikonsultasikan.
- Selanjutnya, pada kasus
pediatrik, seorang dokter anak, sebaiknya satu dengan pengalaman dalam
pengelolaan kekurangan energi protein (KEP), harus mengawasi perawatan
pasien.
- Setiap pasien dengan kelainan
laboratorium yang signifikan, seperti dibahas di atas, dapat mengambil
manfaat dari konsultasi dengan subspesialisasi yang sesuai (misalnya,
endokrinologi, hematologi).
- Anak-anak dengan gizi buruk
sekunder untuk asupan yang tidak memadai dan / atau kelalaian harus
dirujuk ke lembaga sosial yang tepat untuk membantu keluarga dalam
mendapatkan sumber daya dan menyediakan perawatan berkelanjutan bagi anak.
Atasi Hipoglikemia
(Gula Darah <54mg/dl)
·
Berikan air gula dengan sendok (1 sdt gula dalam 50 ml air)
·
Anak sadar berikan makan saring/cair 2-3 jam sekali
·
Tidak sadar berikan 50ml “Bolus” Glukosa 10% IV Nasogastrik.
Atasi Hipotermi
(<36,50C)
·
Raba ekstremitas
·
Hangatkan anak (metode kangguru),
·
segera berikan makanan formula
Atasi kekurangan
cairan (Dehidrasi)
·
Berikan ASI
·
Berikan Resomal 3 sdm setiap setengah jam
·
Bila tidak dapat minum berikan infus glukose 5%+Nacl 1 : 1
ringer laktat
Atasi gangguan
keseimbangan elektrolit
·
Makanan tanpa atau rendah garam
·
lanjutkan resomal atau pengganti 1 liter oralit + 1 liter air +
4 gram KCL + 50 gram gula
·
makanan lumat atau lunak kaya mineral (Zn,Cu, Mangan, magnesium,
kalium)
·
Jangan obati oedema dengan pemberian Deuretik
Atasi infeksi :
·
Berikan antibiotik kotrimoxazole 2x1 selama 5 hari dan
Amoxycilin 3x1 selama 5 hari.
·
Berikan vaksinasi campak
·
Bila diare tidak berkurang Metronidazole 7,5
mg/Kg BB setiap 8 jam selama 7 hari :
Berat < 7 kg : 3
kali sehari x 1/4 tab (250 mg)
Berat > 7 kg : 3
kali sehari x 1/2 tab (250 mg)
Berikan makanan
·
ASI
·
Porsi kecil, sering, rendah serat dan rendah laktasi
|
hari 1-2
|
tiap 2jam
|
|
hari 3-4
|
tiap 3 jam
|
|
hari 5-7
|
tiap 4 jam
|
·
Energi jangan lebih dari 1000 kkal/kgBB/Hari
·
Protein 1-1,5 gr/KgBB/Hari
·
Cairan 130 ml/kgBB/hari
·
Pantau dan catat : Porsi makan, Berat badan, Frekuensi muntah,
Frekuensi BAB dan Konsisten
Penuhi zat gizi mikro
·
Fe mulai minggu kedua dosis pemberian tablet besi folat dan
sirup besi
·
vitamin A
Stimulasi sensorik dan
dukungan emosional
·
Kasih sayang
·
Ciptakan lingkungan yang menyenagkan
·
terapi bermain 15-30 menit/hari
·
keterlibatan ibu rencana aktivitas fisik
Dafta Pustaka
Devi,
Nirmala.2010.Nutrition and Food: Gizi Untuk Keluarga.Jakarta:PT Kompas Media Nusantara
Suhardjo.1992.Pemberian
Makanan Pada Bayi Dan Anak.Yogyakarta:Kanisius
PERSAGI.2009.Kamus
Gizi Pelengkap Kesehatan Keluarga.Jakarta:PT Kompas Media Nusantara
Hidayat,
Aziz Alimul.2008.Pengantar Ilmu Kesehatan Untuk Pendidikan Kebidanan.Jakarta:Salemba
Medika
No comments:
Post a Comment