Monday, July 7, 2014


Perkenalkan saya Wulan Maharani Mahasiswi Universitas Brawijaya yang duduk di semester IV asli dari Kota Wisata Batu. Pada kesempatan kali ini saya ingin menulis dan berbagi sedikit pengalaman saya mendaki salah satu Gunung yang terletak di Jawa Timur yaitu Gunung Arjuna. Gunung Arjuna memiliki ketinggian 3339 mdpl yang dapat ditempuh via empat jalur pendakian. Tepatnya ditanggal 29 Mei 2014 kami yang beranggotakan tujuh orang berangkat dari Malang pukul 09.00 WIB. Tim kami merupakan kumpulan kawanan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Kampus Brawijaya, yaitu meliputi Randi Ilhamsyah (FIA ’11) sebagai Koordinator, M. Rijal Muttaqin (FP ’11) sebagai fotografer, Taufiq Hidayatul Azis (FIA ’10) yang merupakan kakak tertua kami, Ginanjar Agung Prayogi (FIA ’11) sebagai porter pendakian. Itulah tim yang laki – laki sedangkan tim perempuan terdiri dari Fatin Kurnia Laily (FPIK ’12), Miftakhul Karimah (FIB ’12), dan saya sendiri Wulan Maharani (FTP ’12). Jadi totalnya empat laki – laki dan tiga perempuan. Koordinator dan porter kami memutuskan untuk melewati jalur Batu dan berangkat hari Kamis yang kebetulan waktu itu sedang tanggal merah.
Persiapan ransum dan peralatan kelompok sebagian kami persiapkan sehari sebelum tanggal keberangkatan, yaitu meliputi pembelian air minum, bahan bakar, uji kelayakan tenda, serta packing. Esok paginya kami berkumpul di sekretariat UKM dan membeli sayuran serta tambahan ransum untuk perbekalan, sembari melakukan pembagian barang bawaan di masing – masing tas. Setelah semua siap, tentunya kami berdoa terlebih dahulu dengan harapan perjalanan kami tidak ada hambatan, menuju puncak dengan lancar, dan kembali ke rumah dengan selamat. Setelah itu kami berangkat menggunakan motor sebagai akomodasi menuju pos ijin pendakian di daerah Cangar, Batu. Perjalanan Malang – Cangar ditempuh kurang lebih satu setengah jam. Sesampainya di pos, disana tidak dijumpai penjaga, menurut salah satu pemilik warung di tempat tersebut perwakilan dari kami harus menjemput Pak Eko selaku penjaga pos yang saat itu beliau berada di tempat wisata Cangar. Lalu Randi dan Ginanjar bergegas menjemput Pak Eko sedangkan kami menunggu dan berbincang hangat dengan salah satu pemilik warung di seberang pos. Sekitar setengah jam kemudian kedua teman kami tersebut datang bersama Pak Eko. Lalu di pos kami melakukan pendaftaran dengan mengeluarkan uang cukup Rp 37.000,00 untuk tujuh orang, tidak hanya itu, disitu kami diberi sedikit nasihat oleh pak penjaga diantaranya selama pendakian dilarang mengeluh kedinginan, mengeluh kelaparan, mengeluh kelelahan, dan lain lain. Disitulah bagaimana kita melatih kepercayaan dan kekompakan dalam satu tim dan satu kesatuan, dimana kami berangkat bertujuh harus kembali bersama juga dengan bertujuh.


Kemudian dari pos ijin pendakian ke gerbang menuju Arjuno berjarak sekitar 800 meter dan ditempuh dengan motor setelah itu motor dikembalikan di pos untuk diparkir selama kami melakukan pendakian. Inilah gerbang pemberangkatan menuju Arjuna, dan pada pukul 12.00 WIB perjalananpun dimulai.

            Di perjalanan jalur Batu ini melewati hamparan sawah para petani penduduk sekitar Cangar, pada awalnya memang jalan berupa paving, namun ternyata terdapat bebatuan mahkadam dan yang membuat seru ialah jalannya sangat menanjak sehingga membuat kami terengah – engah, namun dengan senyum semangat kami, zona awal itu terlewati dengan lancar. Kami berjalan mengikuti sawah, tiba – tiba kami mendapat teriakan para ibu petani yang mengatakan bahwa kami salah jalan, karena memang dari kami bertujuh belum ada yang pernah mendaki Arjuna melalui jalur Batu. Dengan arahan para ibu kami menyisir jalan di persawahan ke arah kanan yang lumayan jauh. Kemudian kami naik menyeberangi parit yang cukup besar dengan bantuan tali. Setelah itu koordinator kami mencari jalan selanjutnya. Disetiap persimpangan kami kembali bertanya ke penduduk sekitar dan diberi panduan jalan menuju Arjuna, dan kami berjalan sesuai arahan tersebut. Disinilah tempat istirahat pertama kami, masih di area persawahan.
 Kemudian kami melanjutkan perjalanan, jalan sangat menanjak layaknya tanjakan cinta yang terdapat di gunung tetangga.

                                                                                                                    
              Setelah zona sawah terlewati, tibalah perjumpaan kami dengan zona jalan yang sangat sempit, jalan setapak dan semakin lama semakin menanjak. Di sepanjang hutan ini hampir tidak ada tempat istirahat yang cukup luas, kami hanya mengandalkan pohon tumbang yang jatuh melintang. Berjam – jam kami menghabiskan waktu di hutan itu dengan berkali – kali istirahat dan meneguk sedikit air. Sampai akhirnya kami tiba di pos pertama bagi kami, dimana terdapat batu besar serta pohon melintang dimana tempat ini cukup luas untuk beristirahat kami bertujuh.


            Tidak banyak waktu yang kami habiskan di pos ini, karena perjalanan masih sangat panjang. Dengan penuh semangat kami para perempuan berjalan dibarisan depan sedangkan para lelaki menyusul di belakang, karena dengan formasi seperti ini kami bisa menjaga jarak satu sama lain. Semakin lama semakin menanjak jalan yang kami lewati dengan banyak pohon raksasa tumbang yang harus kami langkahi. Jarum jam berjalan terasa cepat, hari semakin siang namun tidak terlalu terik juga tidak ada mendung yang menyelimuti, satu per satu botol minuman habis begitu juga dengan snack. Keringat banyak yang bercucuran, namun tekad kami masih kuat untuk menuju puncak gunung nan angkuh ini. Setelah beberapa jam, sampailah kami di pos kedua, pos dua bagi kami tentunya.
 Setelah rasa lelah sedikit berkurang, dan energi terisi kembali kami melanjutkan pendakian. Pendakian yang sama melewati hutan, jalan sempit, berkelok – kelok, dan terkadang kami menjumpai buah – buahan semacam berry, jalan yang semakin menanjak dan harus mengerahkan otot dan semangat untuk menaklukannya. Tekad kami bertambah ketika bertemu dengan pendaki lain yang akan turun, kami semacam diberi asupan semangat disini. Ketika menengok keatas, langit semakin sore, semakin menunjukkan hawa kegelapannya. Porter kami berkata kita semakin dekat dengan basecamp, seolah memberi isyarat bahwa kami akan segera mendirikan tenda, segera mengisi perut yang seharian hanya diisi camilan, namun kenyataannya masih jauh, masih sangat lama kami berjalan dan tidak kunjung menemukan tempat yang memungkinkan untuk mendirikan tenda. Padahal waktu itu kami sudah lelah, lapar, namun teringat nasihat bapak penjaga di pos ijin pendakian kami tidak boleh mengeluh, maka kami tetap berjalan meskipun sudah payah, dengan kekuatan yang mungkin kami paksakan. Sampai akhirnya kami tiba di pos ketiga bagi kami, dimana di tempat itu kami melakukan ibadah.
Hari semakin petang, jarum jam menunjukan pukul 17.30 WIB, kami mempersiapkan senter untuk membantu penerangan jalan. Benar kata pepatah bahwa semakin dekat dengan pintu keberhasilan, jalan yang dilalui pun semakin menyakitkan. Jalan yang selanjutnya ini benar – benar menyiksa, menyakitkan, lebih menanjak dibandingkan di zona hutan sebelumnya. Kegelapan mulai datang, sungguh ini jalan yang berat, kami merangkak dengan kekuatan otot kaki yang kami punya, paru – paru selalu berusaha mendapat asupan oksigen dngan cukup, terengah – engah disetiap hembusannya, dan Subhanallah…….. Setelah kami merasakan kesakitan itu, tibalah kami di hamparan rumput yang sangat luas, langit petang menambah kejelasan kenampakan bintang di indera penglihatan kami, seakan bintang menyambut kami dari langit, sungguh luar biasa memang ciptaan Tuhan, saya sempat bersimpuh melepas lelah di tempat itu, namun hanya sejenak tentunya karena kami belum sampai di tempat tujuan, yaitu basecamp.  
Porter dan Koordinator kami berada dibarisan depan, mencari jalan menuju basecamp dan kami harus menambah kewaspadaan karena jalan sedikit berbatu, mengandalkan penerangan dari senter, dan disebelah kiri kami terdapat jurang. Jalan yang selanjutnya ini malah sedikit menurun, bukan menanjak lagi. Beberapa dari kami sempat terpereset di jalanan ini, bukan karena licin namun tergelincir oleh batuan kecil. Setelah itu sampailah kami di suatu tempat untuk beristirahat, sempat kami berpikir bahwa ditempat inilah kami mendirikan tenda, namun dengan berbagai pertimbangan urung dilakukan karena tempatnya tidak terlalu luas dan tidak cukup datar untuk berdirinya dua buah tenda. Porter melanjutkan pencarian jalan tanpa beristirahat bersama kami, dan beberapa saat kemudian dia kembali dan mengisyaratkan bahwa jalannya memang benar, di depan ada sesuatu yang menunjukkan balasan sorotan senter porter kami. Tidak berpikir panjang kami berjalan menyusuri jalan setapak tersebut dan ternyata benar, sampailah kami di hamparan rumput yang luas dan disana telah berkerumun banyak orang, beberapa diantara mereka meyambut kami dengan hangat dan menunjukkan tempat basecamp disebelah tenda mereka.
Ditempat itulah kami ikut mengobrol bersama disamping api unggun mereka, bertukar cerita, ternyata mereka merupakan perkumpulan biarawan dari Kota Batu. Kemudian para lelaki tim kami membangun dua tenda untuk istirahat di malam tersebut. Setelah tenda  didirikan kami memasak dengan ransum yang sudah kami bawa. Memang ini yang saya tunggu, makan, hahaha. Dengan tambahan minuman berupa susu kental manis untuk menambah energi yang sudah terkuras seharian, camilan berupa kacang arab yang diperoleh langsung dari Arab. Setelah makan, pukul 22.00 WIB kami menata diri di dalam tenda, menambah helaian kain ditubuh untuk menangkal dinginnya angin malam , dan selamat malam Arjuna, semoga mimpi indah, menyatu dengan malam Arjuna, semoga kami terjaga dibalik keangkuhanmu, dan siap menyambut wajah elokmu di hari esok…
Alarm berbunyi. Jam menunjukkan pukul 02.30. Kami harus bangun dini hari untuk melanjutkan ke puncak bersama rombongan biarawan. Kami mempersiapkan ransum yang dibawa ke puncak, berdoa bersama, dan berangkat menuju puncak. Kami bertujuh orang diletakkan ditengah barisan, sedangkan dibelakang dan didepan ialah kelompok biarawan. Tepatnya pukul 03.00 kami berangkat dengan menggunakan senter dan baju hangat. Jalan yang dilewatipun semakin menantang. Batu besar. Iya, bebatuanlah yang harus kami lewati dari basecamp menuju puncak. Teman kami ada yang sedikit sesak napas karena kelelahan dan udara dini hari yang masih dingin, namun dengan dorongan semangat teman yang lain, semuanya berjalan lancar. Tak sedikit jumlah kami untuk bersitirahat, meneguk sedikit air jeruk yang telah kami buat. Kata rombongan biarawan perjalanan ini menempuh kurang lebih tiga jam. Dengan jalan bebatuan menanjak seperti itu, sungguh menguras tenaga. Sering terdengar teriakan semangat para biarawan dari belakang, tentunya kamipun juga ikut semangat. Tak kunjung sampai, memang masih jauh ternyata, hingga salah seorang mengatakan ini sudah dekat, sebentar lagi sampai puncak. Dan memang langit sduah mulai cerah dan matahari seolah ingin menampakkan wajahnya, padahal kami masih belum sampai di puncak. Semakin sering istirahat, maka kami juga akan semakin lama sampai di puncak. Dan sampailah kita di jalan lurus, tidak menanjak, dan disebelah kiri terdapat hampatan rumput, sedangkan disebelah kanan kami terbelalak oleh hamparan bumi yang sangat indah, gunung tetangga terlihat, ialah Gunung Welirang dan Gunung Penanggungan. Subhanallah, padahal ini belum sampai di puncak namun keindahannya sempat menahan langkah kaki kami, sejenak memandang hamparan itu. Hampir dekat dengan puncak, tapi lagi – lagi kami belum sampai. Masih jauhkah puncaknya? Padahal matahari sudah nampak. Dengan perlahan akhirnya kami sampai di puncak, namun itu belum puncak sejati, masih di puncak bayangan, Selamat pagi Sunrise Arjuna.. dan puncak sejati itu ternyata ada di bukit seberang, dimana disitu terlihat bendera berkibar.







          

          Karena matahari sudah terbit, kami tidak tergesa – gesa menuju puncak sejati. Kami menghabiskan waktu sedikit menikmati keindahan alam yang nampak. Ketika memandang bendera puncak, rasa lelah hilang, berhamburan ke langit dibawa angin sejuk Arjuna. Senyum menghiasi langkah kaki kami, yang harus melewati bukit lain untuk menuju puncak sejati, puncak harapan yang kini ada dihadapan mata. Di bukit tersebut kami melewati bebatuan besar dan terkadang terdapat bunga pegunungan yang indah. Tak peduli seberapa jauh menyeberang, hanya puncak yang terbersit dipikiran kami. Puncak. Puncak.


            Di penyeberangan bukit itu terlihat gunung yang setia mendampingi Arjuna. Gunung Welirang. Gunung dengan warna tampak putih di bagian puncaknya.




                                                                                                                          
               Di batu besar ini, kami dapat melirik kibaran bendera puncak karena lokasinya yang sudah sangat dekat.


            Daaaaaaannnn… Kami Di Puncak Arjunaaaaa….

            Kami tiba di Puncak ini jam 06.10 WIB dengan cuaca yang cerah. Sinar matahari menghangatkan tubuh kami di atas sana. Dan pastinya kami mengabadikan banyak momen di sana. Rasa lelah yang kami bawa tergantikan dengan rasa puas setelah berhasil menginjakkan kaki di bebatuan Arjuna. Rasa syukur selalu terucap dibibir, betapa indah ciptaan Tuhan yang lain. Betapa elok dan memesonanya panorama alam dari kejauhan. Disana kami dapat melihat pegunungan lain, dan pemandangan menakjubkan yang tak tertutup awan sedikitpun.
            Setelah kami dipuncak selama kurang lebih satu jam, kami memutuskan untuk kembali ke basecamp, dengan persaan lega tentunya. Disana kami sudah puas, sudah menitipkan salam dari kawan yang lain untuk Arjuna, sudah mengabadikan momen dengan banyak jepretan. Sampai jumpa puncak, jika waktu dan Tuhan mengijinkan, aku akan menginjak dan menyapamu kembali. Doakan kami sampai rumah dengan selamat. Dan kamipun naik turun bukit lagi untuk kembali ke basecamp.

            Kini jalan menurun yang harus kami lewati. Tiga orang teman kami berada didepan dan mencari air di tempat lain. Perjalanan turun ke tenda lebih cepat yaitu dua jam sehingga pukul 09.00 WIB kami sudah sampai di tenda. Sembari menunggu para lelaki mencari air, kami memasak untuk sarapan.
            Di hamparan ini terkena paparan panas yang tinggi oleh matahari. Sangat panas sekali. Dan sekitar pukul 11.00 WIB para lelaki datang dengan membawa banyak botol air yang terisi penuh. Setelah itu kami melanjutkan memasak dan setelah itu sarapan. Setelah selesai sarapan kami berkemas – kemas tenda, persiapan pulang tentunya. Pada siang itu tiba – tiba gerimis gunung turun, yang membuat kami menggunakan mantel.



      Pukul dua belas lebih kami melangkah pulang. Dengan gerimis yang mendampingi. Meskipun sudah sampai puncak kami harus tetap waspada karena perjalanan pulang masih jauh dan panjang. “Puncak ialah bonus, tujuan utama ialah pulang dengan selamat”. Jumlah istirahat kami tidak terlalu banyak, tidak sebanyak ketika naik. Jelas karena jalannya lebih banyak turun dan beban di tas sudah sedikit berkurang. Kami melewati jalan yang sama dengan jalur naik. Langkah kami terhitung cepat, karena kami bisa dikatakan berlari ketika turun, walaupun banyak dari kami yang sempat terjatuh dan terpeleset. Kembali kami melewati hamparan rumput nan indah di siang hari, namun kami tidak berhenti disana, kami melanjutkan perjalanan dengan harapan sampai di persawahan tidak terlalu larut malam. Akhirnya setelah sekian lama kami melewati hutan – hutan, pos 3, pos 2, dan pos 1 tibalah kami di sawah. Sawahlah zona yang kami tunggu – tunggu. Alhamdulillah lega ketika sampai disana. Kami beristirahat sejenak disawah, menghabiskan air yang tersisa di dalam tas. Tidak lama lagi kami sampai di jalan raya, gerbang pemberangkatan menuju Arjuna.
            Sekitar pukul 17.30 kami sampai di gerbang, namun kami harus berjalan kaki menuju parkir motor yaitu di pos ijin pendakian. Hari semakin petang, kami terpisah cukup jauh dan teman kami di belakang mendapat tumpangan mobil pick up menuju Batu. Sesampainya dipos lagi – lagi tidak menjumpai bapak penjaga, Akhirnya kami berpamitan ke pemilik warung dan menaruh sampah yang kami bawa dari puncak. Pukul 18.30 kami meninggalkan pos, dan tujuan selanjutnya ialah singgah di rumah saya yang kebetulan berada di Batu. Sampai rumah sekitar pukul 19.30. Di rumah kami makan, bersih diri, dan sempat tertidur. Karena kepentingan di Malang esok hari, maka pada malam itu juga kami kembali ke Malang. Sampai di Malang sekitar pukul 22.30, dan kami berpencar ke rumah masing – masing untuk beristirahat.
Tak ada salahnya kita menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang lain. Yang patut kita lakukan ialah mensyukuri atas apa yang diberi Tuhan kepada kita. Terima kasih Arjuna sudah merelakan tubuhmu untuk kami injak, menjaga kami disetiap langkah walaupun hutanmu lebat dan sangar, kehangatan yang kau beri akan selalu kami ingat, kini aku bisa memandangmu dari bawah dengan senyum manis, menatap puncakmu dengan teringat masa ketika kami berada disana.
            Sekian cerita saya dipendakian Gunung Arjuna. Semoga ini bukan pendakian terakhir bagi saya, karena masih banyak gunung – gunung yang lain yang belum pernah saya coba. Semangat…dan selamat mencoba…

Tuesday, April 29, 2014

Analisis Kadar Abu dan Mineral


ANALISIS ABU DAN KADAR MINERAL

A. Pre-lab

1. Apa yang dimaksud dengan abu?
Abu adalah zat organik sisa hasil pembakaran suatu bahan organik atau bisa juga disebut dengan residu anorganik dari proses pembakaran atau oksidasi komponen organik bahan pangan. Kadar abu dari suatu bahan pangan menunjukkan kandungan mineral yang terdapat dalam bahan tersebut, kemurnian, seta kebersihan suatu bahan yang dihasilkan (Irawati,2008).

2.Apa yang dimaksud dengan pengabuan basah?
Pengabuan basah dilakukan dengan cara mengoksidasi komponen organik sampel menggunakan oksidator kimiawi, seperti asam kuat. Kombinasi asam yang sering digunakan dalam pengabuan basah adalah kombinasi asam nitrat dengan asam sulfat. Penggunaan asam sulfat memakan waktu oksidasi yang sangat lama. Penggunaan asam nitrat dapat mengoksidasi bahan organik sampel dengan baik, namun sayangnya asam nitrat cepat habis bahkan sebelum semua sampel terdekstruksi sempurna. Oleh karena itu, untuk menyiasati kekurangan dari oksidator kimiawi tersebut maka digunakan kombinasi asam nitrat dan asam sulfat. Suhu pada pengabuan basah biasanya lebih rendah dari pengabuan kering (Gunawan,2009).

3.Apa yang dimaksud dengan pengabuan kering?
Pengabuan kering dilakukan dengan cara mendestruksi komponen organik sampel dengan suhu tinggi (sekitar 500-600oC) di dalam suatu tanur pengabuan (furnace), tanpa terjadi nyala api, sampai terbentuk abu berwarna putih keabuan dan berat konstan tercapai. Oksigen yang terdapat di dalam udara bertindak sebagai oksidator. Residu yang didapatkan merupakan total abu dari suatu sampel (Zainal,2008).

4.Apa tujuan pengabuan basah?
Pengabuan basah merupakan salah satu usaha untuk memperbaiki cara kering yang sering memakan waktu lama.Tujuan dari pengabuan basah yaitu untuk menentukan jenis mineral yang menguap padasuhu tinggi, mineral trace, dan beracun(Albert,2005).

5. Jelaskan prinsip penenetapan kadar kalsium?
Metode AAS berprinsip pada absorbsi cahaya oleh atom. Atom-atom menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya. Metode serapan atom hanya tergantung pada perbandingan dan tidak bergantung pada temperatur. Setiap alat AAS terdiri atas tiga komponen yaitu unit teratomisasi, sumber radiasi, sistem pengukur fotometerik. Energi yang diserap mengaktifkan elektron, memindahkannya dari keadaan dasar ke keadaan energi yang lebih tinggi. Jumlah cahaya yang diserap sebanding dengan konsentrasi ion logam dalam larutan. Konsentrasi sering dinyatakan sebagai mg/L atau ppm. Jumlah cahaya yang diserap oleh sampel dibandingkan dengan jumlah cahaya yang diserap olehsatu set konsentrasi standar yang diketahui(Sudarmadji,2004).



B. Diagram Alir
1.      Analisis Kadar Abu dengan Pengabuan Kering
·         Persiapan Sampel
  Bahan

 



Bahan kadar air tinggi dioven terlebih dahulu

Bahan berlemak banyak & mudah menguap dibaukan menggunakan
suhu mula – mula lalu suhu pengabuan

Bahan dapat membuih perlu dikeringkan dalam oven &
ditambahkan zat antibuih sperti olive atau parafin

   Hasil

 


·         Proses Pengabuan Kering
  Bahan

Cawan porselen
 



Tanur dipanaskan 600oC selama 1 jam

Cawan porselen didinginkan dalam desikator dan ditimbang (W1)
Sampel 2 gram
 

Cawan porselen & dibakar diatas nyala
pembakar selama 45 menit

Dimasukkan dalam tanur 600oC selama 4 jam
atau hingga abu berwarna keputih –putihan

didinginkan dalam desikator dan ditimbang hingga berat tetap (W1)

   Hasil

 


2.   Penentuan Mineral dengan Spektroskopi Serapan Atom
·         Persiapan Sampel
  Bahan

 



Bahan kadar air tinggi dioven terlebih dahulu

Bahan berlemak banyak & mudah menguap diabukan menggunakan
suhu mula – mula lalu suhu pengabuan

Bahan dapat membuih perlu dikeringkan dalam oven &
ditambahkan zat antibuih sperti olive atau parafin

   Hasil

 





















·         Proses Pengabuan Basah
  Bahan

10 ml H2SO4 & 10 ml HNO3dan beberapa batu didih

Ditimbang sampel mengandung 5 – 10 g padatan

 



Labu Kjedahl

Dipanaskan perlahan sampai larutan berwarna gelap
hindari pembentukan buih yang berlebihan
1-2 ml HNO3

 

Pemanasan selama 5 – 10 menit sampai
larutan tidak gelap lagi
10 ml akuades

 

Dipanaskan sampai berasap

5 ml akuades

Larutan didiamkan sampai dingin kembali,
didihkan sampai berasap

Didinginkan dan diencerkan sampai volume 100 ml

Hasilnya disimpan di refrigerator dengan ditutup alumunium foil

                                                                           
     Hasil

                               












3.      Analisis Mineral dengan AAS
·         Pembuatan Kurva Kalibrasi
    Bahan

 


Larutan standar Ca 1000 ppm 5 ml

           
Labu takar 50 ml

Volume ditepatkan 50 ml dengan akuades
menjadi larutan standar Ca 100 ppm

Diambil larutan yang sudah diencerkan 0,2,4,6,8, dan 10 ml
 

Volume ditepatkan menjadi 100 ml (larutan stanar 0;2;4;6;8;10 ppm)

     Hasil

 


·         Analisis dengan Spektroskopi Serapan Atom
    Bahan

 



Kran gas dibuka

Kompressor (Auto Setting) dinyalakan

Auto sampler ASC6100 dinyalakan

AA-6300 dinyalakan

Komputer dinyalakan, ditunggu sampai tampilan Windows muncul

Klik dua kali pada icon Wizard

Dipilih operation lalu double klik gambar AAS

Pada Wizard Selection, klik OK

Pada Element Selection, klik Select Element

Diisikan unsure yang akan diperiksa

Klik Flame/Furnace

Pada Lamp Mode pilih mode lampu sesuai dengan kebutuhan

Klik OK

Klik Calibration Curve set up

Klik Conc., Unit dipih sesuai satuan standar yang dibuat

Pada number of lines masukkan jumlah deret standar

Dimasukkan konsentrasi standar pada tabel

Klik OK

Klik Sample group setup

Isikan Actual Conc.Unit

Diisikan jumlah sampel

Pada sample ID dimasukkan nama sampel

Dimasukkan angka 1 untuk Weight Factor, Volume Factor,
Dilution Factor, dan Coefficien Factor

Klik OK
 

Klik Next

Klik Connect/send parameter

Ditunggu sampai inisiasi selesai

Check list semua, kemudian diklik OK

Klik Next

Klik pada Lamp On

Klik Line Search

Ditunggu sampai Line Search/Beam Balance OK

Klik Close

Klik Next

Klik Finish

Ditekan Ignite pada instrument sampai keluar api

Pada tabel pengukuran, klik autozero untuk mengenolkan, klik blank untuk mengukur blangko, klik start untuk mengukur standar atau sampel

Pengukuran berjalan otomatis untuk autosampler (ASC)

    Hasil
 




Menyimpan data
Klik File

Klik Save as

diketikkan nama file pada File Nama

Klik Save
Mencetak data
Klik File

Dipilih Print Table Data

Klik lambing unsure pada Selection Schedule

Klik OK > OK
Mematikan alat
Klik Instrument

Klik Connect > OK (tanda checklist hilang)

Klik Files

Klik Exit










C. HasildanPembahasan
1. Analisis Kadar Abu dengan Pengabuan Kering
Sampel
Berat Sampel (g)
Berat Kurs (g)
Berat Akhir (g)
Berat Abu (g)
%Abu
Bayam 1
30,184
22,5109
22,535
0,0241
0,798
Bayam 2
30,318
23,0341
23,0583
0,0242
0,798
Keju 1
30,119
30,0187
30,2120
0,1933
6,418
Keju 2
30,099
20,9890
21,1902
0,2012
6,684
Pisang 1
30,106
23,7474
23,927
0,0796
2,644
Pisang 2
30,209
29,2398
29,3046
0,0648
2,145

Perhitungan
1.        Bayam 1
%Abu = berat abu/berat sampel * 100%
= 0,0241/3,0184 * 100%
       = 0,798 %
        Bayam 2
%Abu = berat abu/berat sampel * 100%
                   = 0,0242/3,0318 * 100%
                  = 0,798 %
2.        Keju 1
%Abu = berat abu/berat sampel * 100%
            = 0,1933/3,0119 * 100%
            = 6,418%
Keju 2
%Abu = berat abu/berat sampel * 100%
            = 0,2012/3,0099 * 100%
            = 6,684%
3.        Pisang 1
%Abu = berat abu/berat sampel * 100%
            = 0,0796/3,0106 * 100%
            = 2,644%

Pisang 2
%Abu = berat abu/berat sampel * 100%
            = 0,0648/3,0209 * 100%
            = 2,145%
Pembahasan data hasil pengamatan, terdapat perbedaan perbedaan hasil akhir kadar abu di sampel yang sama, namun berbeda halnya dengan sampel bayam karena kedua bayam ini dihasilkan kadar abu yang sama yaitu sebesar 0,798 %. Menurut literatur, kadar abu (Fe) yang terkandung di dalam bayam ialah sebesar 3%, namun kebanyakan pada sayuran segar yang baik kadar abunya sebesar 1 %. Dapat dikatakan bahwa hasil praktikum dengan literatur terdapat perbedaan hal itu disebabkan bisa jadi karena proses pendahuluan terehadap cawan dan sampel, proses pengabuan, serta faktor yang berhubungan dengan teknik pengabuan yang menyebabkan perbedaan kehilangan jumlah zat volatil yang ada pada sampel bayam (Rukmana,2004)
Pada sampel keju terdapat perbedaan hasil akhir kadar abu. Keju pertama dihasilkan kadar abu sebesar  6,418% sedangkan pada bayam kedua dihasilkan kaadar abu sebesar  6,684%. Kadar abu yang dihasilkan berbeda karena proses preparasi sampel, proses pendahuluan terhadap cawan, dan faktor lain yang berhubungan dengan teknik yang dilakukan selama pengabuan. Menurut literatur, kadar abu pada keju ialah sekitar 1,5 %, dapat dikatakan hasil praktikum kali ini berbeda jauh dengan literatur karena banyaknya (gram) sampel keju yang digunakan, metode yang digunakan dalam analisis kadar abu, zat atau agen pengoksidasi yang digunakan, waktu serta suhu yang digunakan dalam analisis (Yudatama, 2010)
Pada sampel pisang juga terdapat perbedaan hasil akhir kadar abu. Pisang pertama dihasilkan kadar abu sebesar 2,644% sedangkan pada pisang kedua dihasilkan kadar abu sebesar 2,145%. Kadar abu yang dihasilkan berbeda karena proses preparasi sampel, proses pendahuluan terhadap cawan, dan faktor lain yang berhubungan dengan teknik yang dilakukan selama pengabuan. Menurut literatur, kadar abu pada buah – buahan segar ialah sekitar 0,2 – 0,8 %, dapat dikatakan hasil praktikum berbeda dengan literatur karena sama dengan faktor perbedaan pada keju yaitu banyaknya sampel pisang yang digunakan, metode yang digunakan dalam analisis kadar abu, zat atau agen pengoksidasi yang digunakan, waktu serta suhu yang digunakan dalam analisis (Yatim, 2005).
Faktor yang memengaruhi kadar abu pada pengabuan kering yaitu suhu, waktu, dan agen. Suhu, semakin tinggi suhu yang digunakan maka pengabuan akan semakin cepat; Waktu, semakin lama waktu yang digunakan maka pengabuan akan semakin sempurna; Zat/agen pengoksidasi, mempercepat proses oksidasi, dalam hal ini pengabuan kering zat perngoksidasinya ialah oksigen karena didalam posesnya tidak disertai dengan penambahan reagen.
Analisa prosedurnya yaitu pertama cawan dioven kemudian didinginkan dengan desikator kemudian sampel dihancurkan dan ditimbang sebanyak 6 gram (masing – masing 3 gram) kemudian dimasukkan ke lemari asam dan dipanaskan menggunakan kompor listrik. setelah itu dimasukkan ke dalam tanur dengan penjepit cawan pada suhu 640OC selama 5 jam.
2.      Pengabuan Basah & SSA
Analisa prosedurnya yaitu sampel ditumbuk hingga halus dan ditimbang sebanyak 5 gram. Sampel dimasukkan ke dalam Erlenmeyer dan diletakkan di dalam lemari asam kemudian ditambahkan H2SO4 dan HNO3 masing – masing sebanyak 10 ml sampai berwarna gelap lalu dipanaskan menggunakan hot plate. Penambahan asam sulfat dan asam nitrat tersebut yaitu untuk mempercepat proses oksidasi karena kedua asam tersebut termasuk oksidator kuat. Setelah itu ditunggu sampai uap menghilang dan dingin. kemudian ditambahkan sebanyak 2 ml HNO3 dan dipanaskan sampai bening. Lalu ditambahkan 10 ml akuades dan dipanaskan hingga larutan berasap, kemudian didinginkan dan ditambahkan akuades lagi sebanyak 5 ml. Penambahan akuades sebanyak dua kali karena untuk meyakinkan dan mengakuratkan bahwa penambahan akuades tersebut dapat mengikat senyawa – senyawa lain yang larut dalam air dan senyawa – senyawa organic benar – benar menguap. Setelah itu dipanaskan kembali hingga berasap lalu didinginkan. setelah itu dilakukan pengenceran dan dimasukkan ke dalam labu ukur ditambahkan akuades hingga tanda batas dan dihomogenkan. kemudian setelah dihomogenkan dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 9 ml dan dimasukkan ke dalam alat AAS. Sebelum sampel dimasukkan software diaktifkan terlebih dahulu, kemudian tekan tombol yang berwarna abu – abu dan putih, setelah ditekan ditunggu sampai keluar api. Terdapat selang yang kemudian diberi akuades yaitu sebagai larutan blanko. Jarak ketika akan memasukkan sampel ditunggu hingga menunjukkan angka nol koma sekian kemudianbisa dimasukkan.
Fungsi reagen antara lain H2SO4 untuk membantu mempercepat reaksi oksidasi karena asam sulfat termasuk oksidator kuat. Batu didih memiliki dua fungsi yaitu fungsi pertama untuk meratakan panas sehingga panas menjadi homogeny untuk seluruh bagian larutan. Kemudian fungsi yang kedua yaitu untuk menghindari titik lewat didih. pori – pori dalam batu didih akan membentuk penangkapan udara pada larutan dan melepaskannya ke permukaan larutan ( ini akan mengakibatkan timbulnya gelembung – gelembung kecil pada batu didih ). Tanpa batu didih maka larutan yang dipanaskan akan menjadi super heated pada bagian tertentu, lalu tiba – tiba akan menjadi uap panas yang bias menimbulkan letupan atau ledakan.  Akuades berfungsi untuk mengikat senyawa – senyawa organik lain yang bersifat larut air. HNO3 berfungsi untuk mempercepat reaksi oksidasi senyawa – senyawa organik.
Perbandingan dengan literatur mengenai proses pengabuan basah dan SSA yaitu terdapat literatur yang mengatakan bahwa suhu yang digunakan dalam pengabuan basah yaitu 350o C, juga digunakan reagen HCl 50%. Kemudian ada juga perlakuan  sebelum sampel dimasukkan dalam krus, bagian dalam krus dilapisi silica gel agar tidak terjadi pengikisan bagian dalam krus oleh zat asam yang terkandung dalam sampel dan utnuk menyerap air yang kemungkinan ada pada kurs (Soleca,  2014).
Faktor – faktor yang menyebabkan kegagalan dalam pengabuan basah yaitu cara penghancuran sampel, suhu yang tepat untuk digunakan dan prosedur pengabuan yang dilakukan terdapat kesalahan.
Prinsip AAS  yaitu metode analisa secara kuantitatif yang diukur berdasarkan serapan cahaya pada panjang gelombang tertentu oleh atom logam pada keadaan bebas. apabila cahaya pada panjang gelombang tertentu dilewatkan pada suatu sel yang mengandung ato – atom bebas bersangkutan maka sebagian cahaya akan diserap dan intensitas penyerapannya akan berbanding lurus dengan banyaknya atom bebas dalam sel.
Faktor – faktor yang memengaruhi analisis dengan metode AAS yaitu panjang gelombang yang digunakan; nutrisi yang ada pada bahan pangan; proses pengabuan yang dilakukan; adanya zat pengatur dalam hal ini ialah reagen yang digunakan; dan air pencuci harus terbebas dari ion –ion logam.

Pertanyaan :
  1. Apa fungsi penambahan H2SO4 dan HNO3 pada proses pengabuan basah?
Fungsi dari penambahan H2SO4 dan HNO3ialah untuk membantu mempercepat reaksi oksidasi karena asam sulfat termasuk oksidator kuat.
  1. Mengapa digunakan larutan standar Ca untuk penentuan mineral dengan AAS?
Fungsi dari larutan standar ini adalah sebagai standar dalam pengukuran alat yang nantinya hasilnya akan diplotkan pada kurva standar untuk menentukan nilai regresi dari kurva jika nilai regresi tersebut mendekati 1 maka keakuratan hasil perhitungan yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan atau jika dilakukan pengulangan akan memiliki hasil yang hampir sama. Digunakan larutan standar Ca karena logam kalsium bereaksi dengan air, yang melepaskan gas hidrogen dengan laju yang cukup cepat dan mudah menguap (Apriyantono,2005)
c.      Bagaimana prinsip analisis mineral dengan AAS?
Prinsip analisis mineral dengan AAS  yaitu metode analisa secara kuantitatif yang diukur berdasarkan serapan cahaya pada panjang gelombang tertentu oleh atom logam pada keadaan bebas. apabila cahaya pada panjang gelombang tertentu dilewatkan pada suatu sel yang mengandung ato – atom bebas bersangkutan maka sebagian cahaya akan diserap dan intensitas penyerapannya akan berbanding lurus dengan banyaknya atom bebas dalam sel.
d.      Apa peran analisa abu dalam bidang industri pangan ?
Peran analisa abu dalam bidang industri pangan yaitu dapat mengetahui kadar atau berapa banyak mineral – mineral yang terkandung di dalam bahan pengan yang nantinya berhubungan dengan kebutuhan akan mineral tersebut oleh tubuh manusia. Sehingga jika diketahui kadarnya bisa dilakukan pengolahan dengan bermacam – macam teknik, pencampuran dengan bahan pangan lainnya sehingga dapat memenuh ikebutuhan manusia akan mineral – mineral tersebut.
e.      Jika kamu memiliki sampel :
a)     Telur         b) alpukat      c) Susu cair
Perlakuan pendahuluan apa yang dilakukan untuk analisa kadar abu ?
a)     Telur : berat telur yang diguankan ialah 5 gram kemudian dioven.
b)    Alpukat : Alpukat termasuk buah – buahan segar sehingga berat yang digunakan untuk sampel sebesar 25 gram. Alpukat mengandung banyak lemak maka dilakukan perlakuan pendahuluan berupa diabukan menggunakan suhu mula – mula lalu suhu pengabuan agar komponen volatil alpukat tidak cepat menguap dan lemak tidak rusak karena teroksidasi.
c)     Susu cair : berat susu cair yang digunakan sebesar 10 gram kemudian dioven terlebih dahulu sebelum diabukan supaya proses pengabuan dapt erlangsung dengan cepat.



DAFTAR PUSTAKA
Albert dan Santika, Sri Sumestri.2005. Metode Penelitian Air. Surabaya: ITS Press
Apriyantono, A.D dkk.2005.Analisis Pangan.bogor:PAU Pangan dan Gizi
Gunawan, D, dkk. 2009. Petunjuk Operasi AAS Analyse 100. Lab. Kimia Instrumen UNNES
Irawati.2008.MODUL PENGUJIAN MUTU 1.Diploma IV PDPPTK VEDCA.Cianjur
Rukaman, Rahmat.2004.Bayam Bertanam dan Pengolahan Pasca Panen.Yogyakaarta:Kanisius
Sastrohamidjojo, Hardjono. 2005. Kimia Dasar. Yogyakarta: UGM-Press
Sitti Chadijah, Wa Ode Rustiah dan Anna Handayani. 2012. Penuntun Praktikum Kimia Analitik .Makassar: UIN Alauddin Makassar
Solecha, D.I & Bambang Kuswandi. 2004. Penentuan Ion Cu(II) dalam Sampel Air Secara Spektrofotometri Berbasis Reagen Kering TAR/PVC. FMIPA, Universitas Jember.
Sudarmadji dkk.2004.ProsedurAnalisa Bahan Makanan Dan Pertanian.Liberti.Yogyakarta.
Svehla G.2006. Textbook of Macro and Semimicro Qualitative Inorganic Analysis. Terj. L. Setiono dan A. Hadyana Pudjaatmaka. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Bagian I. Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka
Yatim, wildan.2005.Kamus Biologi.Jakarta:Yayasan obor Indonesia
Yazid, Estien. 2005.Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta: ANDI
Yudatama, Rizki dkk.2010. Kualitas Keju Yang Dihasilkan Dari Susu Kambing Ras Kaligesing Pada Bulan Laktasi Yang Berbeda. Buletin Peternakan Vol. 34(3):186-193, Oktober 2010
Zainal, Arifin.2008. Beberapa unsur mineral esensial mikro dalam sistem biologi dan metode analisisnya. Jurnal Litbang Pertanian, 27(3),104.