ANALISIS ABU DAN
KADAR MINERAL
A. Pre-lab
|
1. Apa yang dimaksud dengan abu?
Abu adalah zat
organik sisa hasil pembakaran suatu bahan organik atau bisa juga disebut
dengan residu anorganik dari proses pembakaran atau oksidasi komponen organik
bahan pangan. Kadar abu dari suatu bahan pangan menunjukkan kandungan mineral
yang terdapat dalam bahan tersebut, kemurnian, seta kebersihan suatu bahan
yang dihasilkan (Irawati,2008).
|
|
2.Apa yang dimaksud dengan pengabuan basah?
Pengabuan basah dilakukan dengan cara mengoksidasi
komponen organik sampel menggunakan oksidator kimiawi, seperti asam kuat.
Kombinasi asam yang sering digunakan dalam pengabuan basah adalah kombinasi
asam nitrat dengan asam sulfat. Penggunaan asam sulfat memakan waktu oksidasi
yang sangat lama. Penggunaan asam nitrat dapat mengoksidasi bahan organik
sampel dengan baik, namun sayangnya asam nitrat cepat habis bahkan sebelum
semua sampel terdekstruksi sempurna. Oleh karena itu, untuk menyiasati
kekurangan dari oksidator kimiawi tersebut maka digunakan kombinasi asam
nitrat dan asam sulfat. Suhu pada pengabuan basah biasanya lebih rendah dari
pengabuan kering (Gunawan,2009).
|
|
3.Apa yang dimaksud dengan pengabuan kering?
Pengabuan kering dilakukan dengan cara mendestruksi
komponen organik sampel dengan suhu tinggi (sekitar 500-600oC) di
dalam suatu tanur pengabuan (furnace), tanpa terjadi nyala api, sampai
terbentuk abu berwarna putih keabuan dan berat konstan tercapai. Oksigen yang
terdapat di dalam udara bertindak sebagai oksidator. Residu yang didapatkan
merupakan total abu dari suatu sampel (Zainal,2008).
|
|
4.Apa tujuan pengabuan basah?
Pengabuan basah merupakan salah satu
usaha untuk memperbaiki cara kering yang sering memakan waktu lama.Tujuan dari
pengabuan basah yaitu untuk menentukan jenis mineral yang menguap padasuhu
tinggi, mineral trace, dan beracun(Albert,2005).
|
|
5. Jelaskan prinsip penenetapan kadar kalsium?
Metode
AAS berprinsip pada absorbsi cahaya oleh atom. Atom-atom menyerap cahaya
tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya.
Metode serapan atom hanya tergantung pada perbandingan dan tidak bergantung
pada temperatur. Setiap
alat AAS terdiri atas tiga komponen yaitu unit teratomisasi, sumber radiasi,
sistem pengukur fotometerik. Energi yang diserap
mengaktifkan elektron, memindahkannya dari keadaan dasar ke keadaan energi
yang lebih tinggi. Jumlah cahaya yang diserap sebanding dengan konsentrasi
ion logam dalam larutan. Konsentrasi sering dinyatakan sebagai mg/L atau ppm.
Jumlah cahaya yang diserap oleh sampel dibandingkan dengan jumlah cahaya yang
diserap olehsatu set konsentrasi standar yang diketahui(Sudarmadji,2004).
|
B. Diagram Alir
1. Analisis Kadar Abu dengan
Pengabuan Kering
·
Persiapan Sampel
|
Bahan
|
Bahan kadar air tinggi dioven terlebih dahulu
Bahan berlemak banyak & mudah menguap dibaukan menggunakan
suhu mula – mula lalu suhu pengabuan
Bahan dapat membuih perlu dikeringkan dalam oven &
ditambahkan zat antibuih sperti olive atau parafin
|
Hasil
|
·
Proses Pengabuan
Kering
|
Bahan
|
|
Cawan porselen
|
Tanur dipanaskan 600oC selama 1 jam
Cawan porselen didinginkan dalam desikator dan
ditimbang (W1)
|
Sampel 2 gram
|
Cawan porselen & dibakar diatas nyala
pembakar selama 45 menit
Dimasukkan dalam tanur 600oC selama 4 jam
atau hingga abu berwarna keputih –putihan
didinginkan dalam desikator dan ditimbang hingga
berat tetap (W1)
|
Hasil
|
2. Penentuan Mineral dengan
Spektroskopi Serapan Atom
·
Persiapan Sampel
|
Bahan
|
Bahan kadar air tinggi dioven terlebih dahulu
Bahan berlemak banyak & mudah menguap diabukan menggunakan
suhu mula – mula lalu suhu pengabuan
Bahan dapat membuih perlu dikeringkan dalam oven &
ditambahkan zat antibuih sperti olive atau parafin
|
Hasil
|
·
Proses Pengabuan
Basah
|
Bahan
|
|
10 ml H2SO4 & 10 ml HNO3dan
beberapa batu didih
|
|
Ditimbang sampel mengandung 5 – 10 g padatan
|
Labu Kjedahl
Dipanaskan perlahan sampai larutan berwarna
gelap
hindari pembentukan buih yang berlebihan
|
1-2 ml HNO3
|
Pemanasan selama 5 – 10 menit sampai
larutan tidak gelap lagi
|
10 ml akuades
|
Dipanaskan sampai berasap
|
5 ml akuades
|
didihkan sampai berasap
Didinginkan dan diencerkan sampai volume 100 ml
Hasilnya disimpan di refrigerator dengan ditutup
alumunium foil
|
Hasil
|
3. Analisis Mineral dengan AAS
·
Pembuatan Kurva
Kalibrasi
|
Bahan
|
|
Larutan standar Ca 1000 ppm 5 ml
|
Labu takar 50 ml
Volume ditepatkan 50 ml dengan akuades
menjadi larutan standar Ca 100 ppm
Diambil larutan yang sudah diencerkan
0,2,4,6,8, dan 10 ml
Volume ditepatkan menjadi 100 ml (larutan stanar
0;2;4;6;8;10 ppm)
|
Hasil
|
·
Analisis dengan
Spektroskopi Serapan Atom
|
Bahan
|
Kran gas dibuka
Kompressor (Auto Setting) dinyalakan
Auto sampler ASC6100 dinyalakan
AA-6300 dinyalakan
Komputer dinyalakan, ditunggu sampai tampilan
Windows muncul
Klik dua kali pada icon Wizard
Dipilih operation lalu double klik gambar AAS
Pada Wizard Selection, klik OK
Pada Element Selection, klik Select Element
Diisikan unsure yang akan diperiksa
Klik Flame/Furnace
Pada Lamp Mode pilih mode lampu sesuai dengan
kebutuhan
Klik OK
Klik Calibration Curve set up
Klik Conc., Unit dipih sesuai satuan standar yang
dibuat
Pada number of lines masukkan jumlah deret standar
Dimasukkan konsentrasi standar pada tabel
Klik OK
Klik Sample group setup
Isikan Actual Conc.Unit
Diisikan jumlah sampel
Pada sample ID dimasukkan nama sampel
Dimasukkan angka 1 untuk Weight Factor, Volume
Factor,
Dilution Factor, dan Coefficien Factor
Klik OK
Klik Next
Klik Connect/send parameter
Ditunggu sampai inisiasi selesai
Check list semua, kemudian diklik OK
Klik Next
Klik pada Lamp On
Klik Line Search
Ditunggu sampai Line Search/Beam Balance OK
Klik Close
Klik Next
Klik Finish
Ditekan Ignite pada instrument sampai keluar api
Pada tabel pengukuran, klik autozero untuk
mengenolkan, klik blank untuk mengukur blangko, klik start untuk mengukur
standar atau sampel
Pengukuran berjalan otomatis untuk autosampler (ASC)
|
Hasil
|
Menyimpan data
Klik File
Klik Save as
diketikkan nama file pada File Nama
Klik Save
Mencetak data
Klik File
Dipilih Print Table Data
Klik lambing unsure pada Selection Schedule
Klik OK > OK
Mematikan alat
Klik Instrument
Klik Connect > OK (tanda checklist hilang)
Klik Files
Klik Exit
C. HasildanPembahasan
1. Analisis Kadar Abu dengan Pengabuan Kering
|
Sampel
|
Berat Sampel (g)
|
Berat Kurs (g)
|
Berat Akhir (g)
|
Berat Abu (g)
|
%Abu
|
|
Bayam 1
|
30,184
|
22,5109
|
22,535
|
0,0241
|
0,798
|
|
Bayam 2
|
30,318
|
23,0341
|
23,0583
|
0,0242
|
0,798
|
|
Keju 1
|
30,119
|
30,0187
|
30,2120
|
0,1933
|
6,418
|
|
Keju 2
|
30,099
|
20,9890
|
21,1902
|
0,2012
|
6,684
|
|
Pisang 1
|
30,106
|
23,7474
|
23,927
|
0,0796
|
2,644
|
|
Pisang 2
|
30,209
|
29,2398
|
29,3046
|
0,0648
|
2,145
|
Perhitungan
1.
Bayam 1
%Abu = berat
abu/berat sampel * 100%
= 0,0241/3,0184 *
100%
= 0,798 %
Bayam 2
%Abu = berat
abu/berat sampel * 100%
= 0,0242/3,0318 * 100%
= 0,798 %
2.
Keju 1
%Abu = berat
abu/berat sampel * 100%
= 0,1933/3,0119 * 100%
= 6,418%
Keju 2
%Abu = berat
abu/berat sampel * 100%
= 0,2012/3,0099 * 100%
= 6,684%
3.
Pisang 1
%Abu = berat
abu/berat sampel * 100%
= 0,0796/3,0106 * 100%
= 2,644%
Pisang 2
%Abu = berat
abu/berat sampel * 100%
= 0,0648/3,0209 * 100%
= 2,145%
Pembahasan data hasil pengamatan, terdapat
perbedaan perbedaan hasil akhir kadar abu di sampel yang sama, namun berbeda
halnya dengan sampel bayam karena kedua bayam ini dihasilkan kadar abu yang
sama yaitu sebesar 0,798 %. Menurut literatur, kadar abu (Fe) yang terkandung di
dalam bayam ialah sebesar 3%, namun kebanyakan pada sayuran segar yang baik
kadar abunya sebesar 1 %. Dapat dikatakan bahwa hasil praktikum dengan
literatur terdapat perbedaan hal itu disebabkan bisa jadi karena proses
pendahuluan terehadap cawan dan sampel, proses pengabuan, serta faktor yang
berhubungan dengan teknik pengabuan yang menyebabkan perbedaan kehilangan
jumlah zat volatil yang ada pada sampel bayam (Rukmana,2004)
Pada sampel keju terdapat perbedaan hasil akhir
kadar abu. Keju pertama dihasilkan kadar abu sebesar 6,418% sedangkan pada bayam kedua
dihasilkan kaadar abu sebesar 6,684%. Kadar abu yang dihasilkan berbeda karena proses preparasi sampel, proses
pendahuluan terhadap cawan, dan faktor lain yang berhubungan dengan teknik yang
dilakukan selama pengabuan. Menurut literatur, kadar abu pada keju ialah
sekitar 1,5 %, dapat dikatakan hasil praktikum kali ini berbeda jauh dengan
literatur karena banyaknya (gram) sampel keju yang digunakan, metode yang
digunakan dalam analisis kadar abu, zat atau agen pengoksidasi yang digunakan,
waktu serta suhu yang digunakan dalam analisis (Yudatama, 2010)
Pada sampel pisang juga terdapat perbedaan hasil
akhir kadar abu. Pisang pertama dihasilkan kadar abu sebesar 2,644% sedangkan pada pisang kedua dihasilkan kadar abu sebesar 2,145%. Kadar abu yang dihasilkan berbeda karena proses preparasi sampel, proses
pendahuluan terhadap cawan, dan faktor lain yang berhubungan dengan teknik yang
dilakukan selama pengabuan. Menurut literatur, kadar abu pada buah – buahan
segar ialah sekitar 0,2 – 0,8 %, dapat dikatakan hasil praktikum berbeda dengan
literatur karena sama dengan faktor perbedaan pada keju yaitu banyaknya sampel
pisang yang digunakan, metode yang digunakan dalam analisis kadar abu, zat atau
agen pengoksidasi yang digunakan, waktu serta suhu yang digunakan dalam
analisis (Yatim, 2005).
Faktor yang memengaruhi kadar abu pada pengabuan
kering yaitu suhu, waktu, dan agen. Suhu, semakin tinggi suhu yang digunakan
maka pengabuan akan semakin cepat; Waktu, semakin lama waktu yang digunakan
maka pengabuan akan semakin sempurna; Zat/agen pengoksidasi, mempercepat proses
oksidasi, dalam hal ini pengabuan kering zat perngoksidasinya ialah oksigen karena
didalam posesnya tidak disertai dengan penambahan reagen.
Analisa
prosedurnya yaitu pertama cawan dioven kemudian didinginkan
dengan desikator kemudian sampel dihancurkan dan ditimbang sebanyak 6 gram
(masing – masing 3 gram) kemudian dimasukkan ke lemari asam dan dipanaskan
menggunakan kompor listrik. setelah itu dimasukkan ke dalam tanur dengan
penjepit cawan pada suhu 640OC selama 5 jam.
2.
Pengabuan Basah & SSA
Analisa
prosedurnya yaitu sampel ditumbuk hingga halus dan ditimbang sebanyak 5 gram.
Sampel dimasukkan ke dalam Erlenmeyer dan diletakkan di dalam lemari asam
kemudian ditambahkan H2SO4 dan HNO3 masing –
masing sebanyak 10 ml sampai berwarna gelap lalu dipanaskan menggunakan hot
plate. Penambahan asam sulfat dan asam nitrat tersebut yaitu untuk mempercepat
proses oksidasi karena kedua asam tersebut termasuk oksidator kuat. Setelah itu
ditunggu sampai uap menghilang dan dingin. kemudian ditambahkan sebanyak 2 ml
HNO3 dan dipanaskan sampai bening. Lalu ditambahkan 10 ml akuades
dan dipanaskan hingga larutan berasap, kemudian didinginkan dan ditambahkan
akuades lagi sebanyak 5 ml. Penambahan akuades sebanyak dua kali karena untuk
meyakinkan dan mengakuratkan bahwa penambahan akuades tersebut dapat mengikat
senyawa – senyawa lain yang larut dalam air dan senyawa – senyawa organic benar
– benar menguap. Setelah itu dipanaskan kembali hingga berasap lalu
didinginkan. setelah itu dilakukan pengenceran dan dimasukkan ke dalam labu
ukur ditambahkan akuades hingga tanda batas dan dihomogenkan. kemudian setelah
dihomogenkan dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 9 ml dan dimasukkan ke
dalam alat AAS. Sebelum sampel dimasukkan software diaktifkan terlebih dahulu,
kemudian tekan tombol yang berwarna abu – abu dan putih, setelah ditekan
ditunggu sampai keluar api. Terdapat selang yang kemudian diberi akuades yaitu
sebagai larutan blanko. Jarak ketika akan memasukkan sampel ditunggu hingga
menunjukkan angka nol koma sekian kemudianbisa dimasukkan.
Fungsi
reagen antara lain H2SO4 untuk membantu mempercepat
reaksi oksidasi karena asam sulfat termasuk oksidator kuat. Batu didih memiliki
dua fungsi yaitu fungsi pertama untuk meratakan panas sehingga panas menjadi
homogeny untuk seluruh bagian larutan. Kemudian fungsi yang kedua yaitu untuk
menghindari titik lewat didih. pori – pori dalam batu didih akan membentuk
penangkapan udara pada larutan dan melepaskannya ke permukaan larutan ( ini
akan mengakibatkan timbulnya gelembung – gelembung kecil pada batu didih ). Tanpa
batu didih maka larutan yang dipanaskan akan menjadi super heated pada bagian
tertentu, lalu tiba – tiba akan menjadi uap panas yang bias menimbulkan letupan
atau ledakan. Akuades berfungsi untuk mengikat
senyawa – senyawa organik lain yang bersifat larut air. HNO3 berfungsi untuk mempercepat reaksi oksidasi senyawa – senyawa organik.
Perbandingan dengan literatur mengenai proses pengabuan basah dan SSA yaitu
terdapat literatur yang mengatakan bahwa suhu yang digunakan dalam pengabuan
basah yaitu 350o C, juga digunakan reagen HCl 50%. Kemudian ada juga
perlakuan sebelum sampel dimasukkan
dalam krus, bagian dalam krus dilapisi silica
gel agar tidak terjadi
pengikisan bagian dalam krus oleh zat asam yang terkandung dalam sampel dan
utnuk menyerap air yang kemungkinan ada pada kurs (Soleca, 2014).
Faktor – faktor yang menyebabkan kegagalan dalam pengabuan
basah yaitu cara penghancuran sampel, suhu yang tepat untuk digunakan
dan prosedur pengabuan yang dilakukan terdapat kesalahan.
Prinsip
AAS yaitu metode analisa secara
kuantitatif yang diukur berdasarkan serapan cahaya pada panjang gelombang
tertentu oleh atom logam pada keadaan bebas. apabila cahaya pada panjang
gelombang tertentu dilewatkan pada suatu sel yang mengandung ato – atom bebas bersangkutan
maka sebagian cahaya akan diserap dan intensitas penyerapannya akan berbanding
lurus dengan banyaknya atom bebas dalam sel.
Faktor
– faktor yang memengaruhi analisis dengan metode AAS yaitu panjang gelombang
yang digunakan; nutrisi yang ada pada bahan pangan; proses pengabuan yang
dilakukan; adanya zat pengatur dalam hal ini ialah reagen yang digunakan; dan
air pencuci harus terbebas dari ion –ion logam.
Pertanyaan :
- Apa fungsi penambahan H2SO4 dan HNO3 pada proses pengabuan basah?
Fungsi dari penambahan H2SO4 dan HNO3ialah untuk membantu mempercepat reaksi oksidasi
karena asam sulfat termasuk oksidator kuat.
- Mengapa digunakan larutan standar Ca untuk penentuan mineral dengan AAS?
Fungsi dari
larutan standar ini adalah sebagai standar dalam pengukuran alat yang nantinya
hasilnya akan diplotkan pada kurva standar untuk menentukan nilai regresi dari
kurva jika nilai regresi tersebut mendekati 1 maka keakuratan hasil perhitungan
yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan atau jika dilakukan pengulangan
akan memiliki hasil yang hampir sama. Digunakan larutan standar Ca karena logam kalsium bereaksi dengan air, yang melepaskan gas
hidrogen dengan laju yang cukup cepat dan
mudah menguap (Apriyantono,2005)
c.
Bagaimana prinsip analisis
mineral dengan AAS?
Prinsip analisis mineral dengan AAS yaitu metode analisa secara kuantitatif yang
diukur berdasarkan serapan cahaya pada panjang gelombang tertentu oleh atom
logam pada keadaan bebas. apabila cahaya pada panjang gelombang tertentu
dilewatkan pada suatu sel yang mengandung ato – atom bebas bersangkutan maka
sebagian cahaya akan diserap dan intensitas penyerapannya akan berbanding lurus
dengan banyaknya atom bebas dalam sel.
d.
Apa peran analisa abu dalam
bidang industri pangan ?
Peran analisa abu dalam bidang
industri pangan yaitu dapat mengetahui kadar atau berapa banyak mineral –
mineral yang terkandung di dalam bahan pengan yang nantinya berhubungan dengan
kebutuhan akan mineral tersebut oleh tubuh manusia. Sehingga jika diketahui
kadarnya bisa dilakukan pengolahan dengan bermacam – macam teknik, pencampuran
dengan bahan pangan lainnya sehingga dapat memenuh ikebutuhan manusia akan
mineral – mineral tersebut.
e.
Jika kamu memiliki sampel :
a)
Telur b) alpukat c) Susu
cair
Perlakuan pendahuluan apa yang dilakukan untuk analisa kadar abu ?
a)
Telur : berat telur yang diguankan ialah 5 gram kemudian dioven.
b) Alpukat : Alpukat termasuk buah – buahan segar sehingga berat yang
digunakan untuk sampel sebesar 25 gram. Alpukat mengandung banyak lemak maka
dilakukan perlakuan pendahuluan berupa diabukan menggunakan suhu mula
– mula lalu suhu pengabuan agar komponen volatil
alpukat tidak cepat menguap dan lemak tidak rusak karena teroksidasi.
c) Susu cair : berat susu cair yang digunakan
sebesar 10 gram kemudian dioven terlebih dahulu sebelum diabukan supaya proses
pengabuan dapt erlangsung dengan cepat.
DAFTAR PUSTAKA
Albert
dan Santika, Sri Sumestri.2005. Metode Penelitian Air.
Surabaya: ITS Press
Apriyantono, A.D dkk.2005.Analisis Pangan.bogor:PAU Pangan dan Gizi
Gunawan,
D, dkk. 2009. Petunjuk Operasi
AAS Analyse 100. Lab. Kimia
Instrumen UNNES
Irawati.2008.MODUL PENGUJIAN MUTU 1.Diploma IV PDPPTK
VEDCA.Cianjur
Rukaman, Rahmat.2004.Bayam Bertanam dan Pengolahan Pasca Panen.Yogyakaarta:Kanisius
Sastrohamidjojo, Hardjono. 2005. Kimia Dasar. Yogyakarta:
UGM-Press
Sitti Chadijah,
Wa Ode Rustiah dan Anna Handayani. 2012. Penuntun Praktikum Kimia
Analitik .Makassar: UIN Alauddin Makassar
Solecha, D.I & Bambang
Kuswandi. 2004. Penentuan Ion Cu(II) dalam Sampel Air Secara
Spektrofotometri Berbasis Reagen Kering TAR/PVC. FMIPA, Universitas
Jember.
Sudarmadji
dkk.2004.ProsedurAnalisa Bahan Makanan
Dan Pertanian.Liberti.Yogyakarta.
Svehla G.2006. Textbook
of Macro and Semimicro Qualitative Inorganic Analysis. Terj. L. Setiono dan
A. Hadyana Pudjaatmaka. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan
Semimikro Bagian I. Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka
Yatim,
wildan.2005.Kamus Biologi.Jakarta:Yayasan
obor Indonesia
Yazid, Estien. 2005.Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta:
ANDI
Yudatama, Rizki dkk.2010. Kualitas
Keju Yang Dihasilkan Dari Susu Kambing Ras Kaligesing Pada Bulan Laktasi Yang
Berbeda. Buletin Peternakan Vol. 34(3):186-193, Oktober 2010
Zainal,
Arifin.2008. Beberapa unsur mineral esensial mikro dalam sistem biologi
dan metode analisisnya. Jurnal Litbang Pertanian, 27(3),104.
No comments:
Post a Comment