Perkenalkan saya Wulan
Maharani Mahasiswi Universitas Brawijaya yang duduk di semester IV asli dari
Kota Wisata Batu. Pada kesempatan kali ini saya ingin menulis dan berbagi
sedikit pengalaman saya mendaki salah satu Gunung yang terletak di Jawa Timur
yaitu Gunung Arjuna. Gunung Arjuna memiliki ketinggian 3339 mdpl yang dapat
ditempuh via empat jalur pendakian. Tepatnya ditanggal 29 Mei 2014 kami yang
beranggotakan tujuh orang berangkat dari Malang pukul 09.00 WIB. Tim kami
merupakan kumpulan kawanan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Kampus
Brawijaya, yaitu meliputi Randi Ilhamsyah (FIA ’11) sebagai Koordinator, M.
Rijal Muttaqin (FP ’11) sebagai fotografer, Taufiq Hidayatul Azis (FIA ’10)
yang merupakan kakak tertua kami, Ginanjar Agung Prayogi (FIA ’11) sebagai
porter pendakian. Itulah tim yang laki – laki sedangkan tim perempuan terdiri
dari Fatin Kurnia Laily (FPIK ’12), Miftakhul Karimah (FIB ’12), dan saya
sendiri Wulan Maharani (FTP ’12). Jadi totalnya empat laki – laki dan tiga
perempuan. Koordinator dan porter kami memutuskan untuk melewati jalur Batu dan
berangkat hari Kamis yang kebetulan waktu itu sedang tanggal merah.
Persiapan ransum dan
peralatan kelompok sebagian kami persiapkan sehari sebelum tanggal
keberangkatan, yaitu meliputi pembelian air minum, bahan bakar, uji kelayakan
tenda, serta packing. Esok paginya kami berkumpul di sekretariat UKM dan
membeli sayuran serta tambahan ransum untuk perbekalan, sembari melakukan
pembagian barang bawaan di masing – masing tas. Setelah semua siap, tentunya
kami berdoa terlebih dahulu dengan harapan perjalanan kami tidak ada hambatan,
menuju puncak dengan lancar, dan kembali ke rumah dengan selamat. Setelah itu
kami berangkat menggunakan motor sebagai akomodasi menuju pos ijin pendakian di
daerah Cangar, Batu. Perjalanan Malang – Cangar ditempuh kurang lebih satu
setengah jam. Sesampainya di pos, disana tidak dijumpai penjaga, menurut salah
satu pemilik warung di tempat tersebut perwakilan dari kami harus menjemput Pak
Eko selaku penjaga pos yang saat itu beliau berada di tempat wisata Cangar.
Lalu Randi dan Ginanjar bergegas menjemput Pak Eko sedangkan kami menunggu dan
berbincang hangat dengan salah satu pemilik warung di seberang pos. Sekitar
setengah jam kemudian kedua teman kami tersebut datang bersama Pak Eko. Lalu di
pos kami melakukan pendaftaran dengan mengeluarkan uang cukup Rp 37.000,00
untuk tujuh orang, tidak hanya itu, disitu kami diberi sedikit nasihat oleh pak
penjaga diantaranya selama pendakian dilarang mengeluh kedinginan, mengeluh
kelaparan, mengeluh kelelahan, dan lain lain. Disitulah bagaimana kita melatih
kepercayaan dan kekompakan dalam satu tim dan satu kesatuan, dimana kami
berangkat bertujuh harus kembali bersama juga dengan bertujuh.
Kemudian dari pos ijin
pendakian ke gerbang menuju Arjuno berjarak sekitar 800 meter dan ditempuh
dengan motor setelah itu motor dikembalikan di pos untuk diparkir selama kami
melakukan pendakian. Inilah gerbang pemberangkatan menuju Arjuna, dan pada
pukul 12.00 WIB perjalananpun dimulai.
Di
perjalanan jalur Batu ini melewati hamparan sawah para petani penduduk sekitar
Cangar, pada awalnya memang jalan berupa paving, namun ternyata terdapat
bebatuan mahkadam dan yang membuat seru ialah jalannya sangat menanjak sehingga
membuat kami terengah – engah, namun dengan senyum semangat kami, zona awal itu
terlewati dengan lancar. Kami berjalan mengikuti sawah, tiba – tiba kami
mendapat teriakan para ibu petani yang mengatakan bahwa kami salah jalan,
karena memang dari kami bertujuh belum ada yang pernah mendaki Arjuna melalui
jalur Batu. Dengan arahan para ibu kami menyisir jalan di persawahan ke arah
kanan yang lumayan jauh. Kemudian kami naik menyeberangi parit yang cukup besar
dengan bantuan tali. Setelah itu koordinator kami mencari jalan selanjutnya.
Disetiap persimpangan kami kembali bertanya ke penduduk sekitar dan diberi panduan
jalan menuju Arjuna, dan kami berjalan sesuai arahan tersebut. Disinilah tempat
istirahat pertama kami, masih di area persawahan.
Kemudian
kami melanjutkan perjalanan, jalan sangat menanjak layaknya tanjakan cinta yang
terdapat di gunung tetangga.
Setelah
zona sawah terlewati, tibalah perjumpaan kami dengan zona jalan yang sangat
sempit, jalan setapak dan semakin lama semakin menanjak. Di sepanjang hutan ini
hampir tidak ada tempat istirahat yang cukup luas, kami hanya mengandalkan
pohon tumbang yang jatuh melintang. Berjam – jam kami menghabiskan waktu di
hutan itu dengan berkali – kali istirahat dan meneguk sedikit air. Sampai akhirnya
kami tiba di pos pertama bagi kami, dimana terdapat batu besar serta pohon
melintang dimana tempat ini cukup luas untuk beristirahat kami bertujuh.
Tidak
banyak waktu yang kami habiskan di pos ini, karena perjalanan masih sangat panjang.
Dengan penuh semangat kami para perempuan berjalan dibarisan depan sedangkan
para lelaki menyusul di belakang, karena dengan formasi seperti ini kami bisa
menjaga jarak satu sama lain. Semakin lama semakin menanjak jalan yang kami
lewati dengan banyak pohon raksasa tumbang yang harus kami langkahi. Jarum jam
berjalan terasa cepat, hari semakin siang namun tidak terlalu terik juga tidak
ada mendung yang menyelimuti, satu per satu botol minuman habis begitu juga
dengan snack. Keringat banyak yang bercucuran, namun tekad kami masih kuat
untuk menuju puncak gunung nan angkuh ini. Setelah beberapa jam, sampailah kami
di pos kedua, pos dua bagi kami tentunya.
Setelah rasa lelah sedikit berkurang, dan energi terisi kembali kami melanjutkan pendakian. Pendakian yang sama melewati hutan, jalan sempit, berkelok – kelok, dan terkadang kami menjumpai buah – buahan semacam berry, jalan yang semakin menanjak dan harus mengerahkan otot dan semangat untuk menaklukannya. Tekad kami bertambah ketika bertemu dengan pendaki lain yang akan turun, kami semacam diberi asupan semangat disini. Ketika menengok keatas, langit semakin sore, semakin menunjukkan hawa kegelapannya. Porter kami berkata kita semakin dekat dengan basecamp, seolah memberi isyarat bahwa kami akan segera mendirikan tenda, segera mengisi perut yang seharian hanya diisi camilan, namun kenyataannya masih jauh, masih sangat lama kami berjalan dan tidak kunjung menemukan tempat yang memungkinkan untuk mendirikan tenda. Padahal waktu itu kami sudah lelah, lapar, namun teringat nasihat bapak penjaga di pos ijin pendakian kami tidak boleh mengeluh, maka kami tetap berjalan meskipun sudah payah, dengan kekuatan yang mungkin kami paksakan. Sampai akhirnya kami tiba di pos ketiga bagi kami, dimana di tempat itu kami melakukan ibadah.
Setelah rasa lelah sedikit berkurang, dan energi terisi kembali kami melanjutkan pendakian. Pendakian yang sama melewati hutan, jalan sempit, berkelok – kelok, dan terkadang kami menjumpai buah – buahan semacam berry, jalan yang semakin menanjak dan harus mengerahkan otot dan semangat untuk menaklukannya. Tekad kami bertambah ketika bertemu dengan pendaki lain yang akan turun, kami semacam diberi asupan semangat disini. Ketika menengok keatas, langit semakin sore, semakin menunjukkan hawa kegelapannya. Porter kami berkata kita semakin dekat dengan basecamp, seolah memberi isyarat bahwa kami akan segera mendirikan tenda, segera mengisi perut yang seharian hanya diisi camilan, namun kenyataannya masih jauh, masih sangat lama kami berjalan dan tidak kunjung menemukan tempat yang memungkinkan untuk mendirikan tenda. Padahal waktu itu kami sudah lelah, lapar, namun teringat nasihat bapak penjaga di pos ijin pendakian kami tidak boleh mengeluh, maka kami tetap berjalan meskipun sudah payah, dengan kekuatan yang mungkin kami paksakan. Sampai akhirnya kami tiba di pos ketiga bagi kami, dimana di tempat itu kami melakukan ibadah.
Hari semakin petang, jarum
jam menunjukan pukul 17.30 WIB, kami mempersiapkan senter untuk membantu
penerangan jalan. Benar kata pepatah bahwa semakin dekat dengan pintu
keberhasilan, jalan yang dilalui pun semakin menyakitkan. Jalan yang
selanjutnya ini benar – benar menyiksa, menyakitkan, lebih menanjak
dibandingkan di zona hutan sebelumnya. Kegelapan mulai datang, sungguh ini
jalan yang berat, kami merangkak dengan kekuatan otot kaki yang kami punya,
paru – paru selalu berusaha mendapat asupan oksigen dngan cukup, terengah –
engah disetiap hembusannya, dan Subhanallah…….. Setelah kami merasakan
kesakitan itu, tibalah kami di hamparan rumput yang sangat luas, langit petang
menambah kejelasan kenampakan bintang di indera penglihatan kami, seakan
bintang menyambut kami dari langit, sungguh luar biasa memang ciptaan Tuhan,
saya sempat bersimpuh melepas lelah di tempat itu, namun hanya sejenak tentunya
karena kami belum sampai di tempat tujuan, yaitu basecamp.
Porter dan Koordinator kami
berada dibarisan depan, mencari jalan menuju basecamp dan kami harus menambah
kewaspadaan karena jalan sedikit berbatu, mengandalkan penerangan dari senter,
dan disebelah kiri kami terdapat jurang. Jalan yang selanjutnya ini malah
sedikit menurun, bukan menanjak lagi. Beberapa dari kami sempat terpereset di
jalanan ini, bukan karena licin namun tergelincir oleh batuan kecil. Setelah itu
sampailah kami di suatu tempat untuk beristirahat, sempat kami berpikir bahwa
ditempat inilah kami mendirikan tenda, namun dengan berbagai pertimbangan urung
dilakukan karena tempatnya tidak terlalu luas dan tidak cukup datar untuk
berdirinya dua buah tenda. Porter melanjutkan pencarian jalan tanpa
beristirahat bersama kami, dan beberapa saat kemudian dia kembali dan mengisyaratkan
bahwa jalannya memang benar, di depan ada sesuatu yang menunjukkan balasan
sorotan senter porter kami. Tidak berpikir panjang kami berjalan menyusuri
jalan setapak tersebut dan ternyata benar, sampailah kami di hamparan rumput
yang luas dan disana telah berkerumun banyak orang, beberapa diantara mereka
meyambut kami dengan hangat dan menunjukkan tempat basecamp disebelah tenda
mereka.
Ditempat itulah kami ikut
mengobrol bersama disamping api unggun mereka, bertukar cerita, ternyata mereka
merupakan perkumpulan biarawan dari Kota Batu. Kemudian para lelaki tim kami
membangun dua tenda untuk istirahat di malam tersebut. Setelah tenda didirikan kami memasak dengan ransum yang
sudah kami bawa. Memang ini yang saya tunggu, makan, hahaha. Dengan tambahan
minuman berupa susu kental manis untuk menambah energi yang sudah terkuras
seharian, camilan berupa kacang arab yang diperoleh langsung dari Arab. Setelah
makan, pukul 22.00 WIB kami menata diri di dalam tenda, menambah helaian kain
ditubuh untuk menangkal dinginnya angin malam , dan selamat malam Arjuna,
semoga mimpi indah, menyatu dengan malam Arjuna, semoga kami terjaga dibalik
keangkuhanmu, dan siap menyambut wajah elokmu di hari esok…
Alarm berbunyi. Jam
menunjukkan pukul 02.30. Kami harus bangun dini hari untuk melanjutkan ke
puncak bersama rombongan biarawan. Kami mempersiapkan ransum yang dibawa ke
puncak, berdoa bersama, dan berangkat menuju puncak. Kami bertujuh orang
diletakkan ditengah barisan, sedangkan dibelakang dan didepan ialah kelompok
biarawan. Tepatnya pukul 03.00 kami berangkat dengan menggunakan senter dan
baju hangat. Jalan yang dilewatipun semakin menantang. Batu besar. Iya,
bebatuanlah yang harus kami lewati dari basecamp menuju puncak. Teman kami ada
yang sedikit sesak napas karena kelelahan dan udara dini hari yang masih
dingin, namun dengan dorongan semangat teman yang lain, semuanya berjalan
lancar. Tak sedikit jumlah kami untuk bersitirahat, meneguk sedikit air jeruk
yang telah kami buat. Kata rombongan biarawan perjalanan ini menempuh kurang
lebih tiga jam. Dengan jalan bebatuan menanjak seperti itu, sungguh menguras
tenaga. Sering terdengar teriakan semangat para biarawan dari belakang,
tentunya kamipun juga ikut semangat. Tak kunjung sampai, memang masih jauh
ternyata, hingga salah seorang mengatakan ini sudah dekat, sebentar lagi sampai
puncak. Dan memang langit sduah mulai cerah dan matahari seolah ingin
menampakkan wajahnya, padahal kami masih belum sampai di puncak. Semakin sering
istirahat, maka kami juga akan semakin lama sampai di puncak. Dan sampailah
kita di jalan lurus, tidak menanjak, dan disebelah kiri terdapat hampatan
rumput, sedangkan disebelah kanan kami terbelalak oleh hamparan bumi yang
sangat indah, gunung tetangga terlihat, ialah Gunung Welirang dan Gunung
Penanggungan. Subhanallah, padahal ini belum sampai di puncak namun
keindahannya sempat menahan langkah kaki kami, sejenak memandang hamparan itu.
Hampir dekat dengan puncak, tapi lagi – lagi kami belum sampai. Masih jauhkah
puncaknya? Padahal matahari sudah nampak. Dengan perlahan akhirnya kami sampai
di puncak, namun itu belum puncak sejati, masih di puncak bayangan, Selamat
pagi Sunrise Arjuna.. dan puncak sejati itu ternyata ada di bukit seberang,
dimana disitu terlihat bendera berkibar.
Karena matahari sudah terbit, kami tidak tergesa – gesa menuju puncak sejati. Kami menghabiskan waktu sedikit menikmati keindahan alam yang nampak. Ketika memandang bendera puncak, rasa lelah hilang, berhamburan ke langit dibawa angin sejuk Arjuna. Senyum menghiasi langkah kaki kami, yang harus melewati bukit lain untuk menuju puncak sejati, puncak harapan yang kini ada dihadapan mata. Di bukit tersebut kami melewati bebatuan besar dan terkadang terdapat bunga pegunungan yang indah. Tak peduli seberapa jauh menyeberang, hanya puncak yang terbersit dipikiran kami. Puncak. Puncak.
Di penyeberangan bukit itu terlihat
gunung yang setia mendampingi Arjuna. Gunung Welirang. Gunung dengan warna
tampak putih di bagian puncaknya.
Di
batu besar ini, kami dapat melirik kibaran bendera puncak karena lokasinya yang
sudah sangat dekat.
Daaaaaaannnn… Kami Di Puncak Arjunaaaaa….
Kami
tiba di Puncak ini jam 06.10 WIB dengan cuaca yang cerah. Sinar matahari
menghangatkan tubuh kami di atas sana. Dan pastinya kami mengabadikan banyak
momen di sana. Rasa lelah yang kami bawa tergantikan dengan rasa puas setelah
berhasil menginjakkan kaki di bebatuan Arjuna. Rasa syukur selalu terucap
dibibir, betapa indah ciptaan Tuhan yang lain. Betapa elok dan memesonanya
panorama alam dari kejauhan. Disana kami dapat melihat pegunungan lain, dan
pemandangan menakjubkan yang tak tertutup awan sedikitpun.
Setelah kami dipuncak selama kurang
lebih satu jam, kami memutuskan untuk kembali ke basecamp, dengan persaan lega
tentunya. Disana kami sudah puas, sudah menitipkan salam dari kawan yang lain
untuk Arjuna, sudah mengabadikan momen dengan banyak jepretan. Sampai jumpa
puncak, jika waktu dan Tuhan mengijinkan, aku akan menginjak dan menyapamu
kembali. Doakan kami sampai rumah dengan selamat. Dan kamipun naik turun bukit
lagi untuk kembali ke basecamp.
Kini
jalan menurun yang harus kami lewati. Tiga orang teman kami berada didepan dan
mencari air di tempat lain. Perjalanan turun ke tenda lebih cepat yaitu dua jam
sehingga pukul 09.00 WIB kami sudah sampai di tenda. Sembari menunggu para
lelaki mencari air, kami memasak untuk sarapan.
Di
hamparan ini terkena paparan panas yang tinggi oleh matahari. Sangat panas sekali.
Dan sekitar pukul 11.00 WIB para lelaki datang dengan membawa banyak botol air
yang terisi penuh. Setelah itu kami melanjutkan memasak dan setelah itu sarapan.
Setelah selesai sarapan kami berkemas – kemas tenda, persiapan pulang tentunya.
Pada siang itu tiba – tiba gerimis gunung turun, yang membuat kami menggunakan
mantel.
Pukul
dua belas lebih kami melangkah pulang. Dengan gerimis yang mendampingi.
Meskipun sudah sampai puncak kami harus tetap waspada karena perjalanan pulang
masih jauh dan panjang. “Puncak ialah bonus, tujuan utama ialah pulang dengan
selamat”. Jumlah istirahat kami tidak terlalu banyak, tidak sebanyak ketika
naik. Jelas karena jalannya lebih banyak turun dan beban di tas sudah sedikit
berkurang. Kami melewati jalan yang sama dengan jalur naik. Langkah kami
terhitung cepat, karena kami bisa dikatakan berlari ketika turun, walaupun banyak
dari kami yang sempat terjatuh dan terpeleset. Kembali kami melewati hamparan
rumput nan indah di siang hari, namun kami tidak berhenti disana, kami
melanjutkan perjalanan dengan harapan sampai di persawahan tidak terlalu larut
malam. Akhirnya setelah sekian lama kami melewati hutan – hutan, pos 3, pos 2,
dan pos 1 tibalah kami di sawah. Sawahlah zona yang kami tunggu – tunggu.
Alhamdulillah lega ketika sampai disana. Kami beristirahat sejenak disawah,
menghabiskan air yang tersisa di dalam tas. Tidak lama lagi kami sampai di
jalan raya, gerbang pemberangkatan menuju Arjuna.
Sekitar
pukul 17.30 kami sampai di gerbang, namun kami harus berjalan kaki menuju parkir
motor yaitu di pos ijin pendakian. Hari semakin petang, kami terpisah cukup
jauh dan teman kami di belakang mendapat tumpangan mobil pick up menuju Batu.
Sesampainya dipos lagi – lagi tidak menjumpai bapak penjaga, Akhirnya kami berpamitan
ke pemilik warung dan menaruh sampah yang kami bawa dari puncak. Pukul 18.30
kami meninggalkan pos, dan tujuan selanjutnya ialah singgah di rumah saya yang
kebetulan berada di Batu. Sampai rumah sekitar pukul 19.30. Di rumah kami
makan, bersih diri, dan sempat tertidur. Karena kepentingan di Malang esok
hari, maka pada malam itu juga kami kembali ke Malang. Sampai di Malang sekitar
pukul 22.30, dan kami berpencar ke rumah masing – masing untuk beristirahat.
Tak ada salahnya kita
menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang lain. Yang patut kita lakukan ialah
mensyukuri atas apa yang diberi Tuhan kepada kita. Terima kasih Arjuna sudah
merelakan tubuhmu untuk kami injak, menjaga kami disetiap langkah walaupun
hutanmu lebat dan sangar, kehangatan yang kau beri akan selalu kami ingat, kini
aku bisa memandangmu dari bawah dengan senyum manis, menatap puncakmu dengan
teringat masa ketika kami berada disana.
Sekian
cerita saya dipendakian Gunung Arjuna. Semoga ini bukan pendakian terakhir bagi
saya, karena masih banyak gunung – gunung yang lain yang belum pernah saya
coba. Semangat…dan selamat mencoba…
No comments:
Post a Comment