Monday, July 7, 2014


Perkenalkan saya Wulan Maharani Mahasiswi Universitas Brawijaya yang duduk di semester IV asli dari Kota Wisata Batu. Pada kesempatan kali ini saya ingin menulis dan berbagi sedikit pengalaman saya mendaki salah satu Gunung yang terletak di Jawa Timur yaitu Gunung Arjuna. Gunung Arjuna memiliki ketinggian 3339 mdpl yang dapat ditempuh via empat jalur pendakian. Tepatnya ditanggal 29 Mei 2014 kami yang beranggotakan tujuh orang berangkat dari Malang pukul 09.00 WIB. Tim kami merupakan kumpulan kawanan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Kampus Brawijaya, yaitu meliputi Randi Ilhamsyah (FIA ’11) sebagai Koordinator, M. Rijal Muttaqin (FP ’11) sebagai fotografer, Taufiq Hidayatul Azis (FIA ’10) yang merupakan kakak tertua kami, Ginanjar Agung Prayogi (FIA ’11) sebagai porter pendakian. Itulah tim yang laki – laki sedangkan tim perempuan terdiri dari Fatin Kurnia Laily (FPIK ’12), Miftakhul Karimah (FIB ’12), dan saya sendiri Wulan Maharani (FTP ’12). Jadi totalnya empat laki – laki dan tiga perempuan. Koordinator dan porter kami memutuskan untuk melewati jalur Batu dan berangkat hari Kamis yang kebetulan waktu itu sedang tanggal merah.
Persiapan ransum dan peralatan kelompok sebagian kami persiapkan sehari sebelum tanggal keberangkatan, yaitu meliputi pembelian air minum, bahan bakar, uji kelayakan tenda, serta packing. Esok paginya kami berkumpul di sekretariat UKM dan membeli sayuran serta tambahan ransum untuk perbekalan, sembari melakukan pembagian barang bawaan di masing – masing tas. Setelah semua siap, tentunya kami berdoa terlebih dahulu dengan harapan perjalanan kami tidak ada hambatan, menuju puncak dengan lancar, dan kembali ke rumah dengan selamat. Setelah itu kami berangkat menggunakan motor sebagai akomodasi menuju pos ijin pendakian di daerah Cangar, Batu. Perjalanan Malang – Cangar ditempuh kurang lebih satu setengah jam. Sesampainya di pos, disana tidak dijumpai penjaga, menurut salah satu pemilik warung di tempat tersebut perwakilan dari kami harus menjemput Pak Eko selaku penjaga pos yang saat itu beliau berada di tempat wisata Cangar. Lalu Randi dan Ginanjar bergegas menjemput Pak Eko sedangkan kami menunggu dan berbincang hangat dengan salah satu pemilik warung di seberang pos. Sekitar setengah jam kemudian kedua teman kami tersebut datang bersama Pak Eko. Lalu di pos kami melakukan pendaftaran dengan mengeluarkan uang cukup Rp 37.000,00 untuk tujuh orang, tidak hanya itu, disitu kami diberi sedikit nasihat oleh pak penjaga diantaranya selama pendakian dilarang mengeluh kedinginan, mengeluh kelaparan, mengeluh kelelahan, dan lain lain. Disitulah bagaimana kita melatih kepercayaan dan kekompakan dalam satu tim dan satu kesatuan, dimana kami berangkat bertujuh harus kembali bersama juga dengan bertujuh.


Kemudian dari pos ijin pendakian ke gerbang menuju Arjuno berjarak sekitar 800 meter dan ditempuh dengan motor setelah itu motor dikembalikan di pos untuk diparkir selama kami melakukan pendakian. Inilah gerbang pemberangkatan menuju Arjuna, dan pada pukul 12.00 WIB perjalananpun dimulai.

            Di perjalanan jalur Batu ini melewati hamparan sawah para petani penduduk sekitar Cangar, pada awalnya memang jalan berupa paving, namun ternyata terdapat bebatuan mahkadam dan yang membuat seru ialah jalannya sangat menanjak sehingga membuat kami terengah – engah, namun dengan senyum semangat kami, zona awal itu terlewati dengan lancar. Kami berjalan mengikuti sawah, tiba – tiba kami mendapat teriakan para ibu petani yang mengatakan bahwa kami salah jalan, karena memang dari kami bertujuh belum ada yang pernah mendaki Arjuna melalui jalur Batu. Dengan arahan para ibu kami menyisir jalan di persawahan ke arah kanan yang lumayan jauh. Kemudian kami naik menyeberangi parit yang cukup besar dengan bantuan tali. Setelah itu koordinator kami mencari jalan selanjutnya. Disetiap persimpangan kami kembali bertanya ke penduduk sekitar dan diberi panduan jalan menuju Arjuna, dan kami berjalan sesuai arahan tersebut. Disinilah tempat istirahat pertama kami, masih di area persawahan.
 Kemudian kami melanjutkan perjalanan, jalan sangat menanjak layaknya tanjakan cinta yang terdapat di gunung tetangga.

                                                                                                                    
              Setelah zona sawah terlewati, tibalah perjumpaan kami dengan zona jalan yang sangat sempit, jalan setapak dan semakin lama semakin menanjak. Di sepanjang hutan ini hampir tidak ada tempat istirahat yang cukup luas, kami hanya mengandalkan pohon tumbang yang jatuh melintang. Berjam – jam kami menghabiskan waktu di hutan itu dengan berkali – kali istirahat dan meneguk sedikit air. Sampai akhirnya kami tiba di pos pertama bagi kami, dimana terdapat batu besar serta pohon melintang dimana tempat ini cukup luas untuk beristirahat kami bertujuh.


            Tidak banyak waktu yang kami habiskan di pos ini, karena perjalanan masih sangat panjang. Dengan penuh semangat kami para perempuan berjalan dibarisan depan sedangkan para lelaki menyusul di belakang, karena dengan formasi seperti ini kami bisa menjaga jarak satu sama lain. Semakin lama semakin menanjak jalan yang kami lewati dengan banyak pohon raksasa tumbang yang harus kami langkahi. Jarum jam berjalan terasa cepat, hari semakin siang namun tidak terlalu terik juga tidak ada mendung yang menyelimuti, satu per satu botol minuman habis begitu juga dengan snack. Keringat banyak yang bercucuran, namun tekad kami masih kuat untuk menuju puncak gunung nan angkuh ini. Setelah beberapa jam, sampailah kami di pos kedua, pos dua bagi kami tentunya.
 Setelah rasa lelah sedikit berkurang, dan energi terisi kembali kami melanjutkan pendakian. Pendakian yang sama melewati hutan, jalan sempit, berkelok – kelok, dan terkadang kami menjumpai buah – buahan semacam berry, jalan yang semakin menanjak dan harus mengerahkan otot dan semangat untuk menaklukannya. Tekad kami bertambah ketika bertemu dengan pendaki lain yang akan turun, kami semacam diberi asupan semangat disini. Ketika menengok keatas, langit semakin sore, semakin menunjukkan hawa kegelapannya. Porter kami berkata kita semakin dekat dengan basecamp, seolah memberi isyarat bahwa kami akan segera mendirikan tenda, segera mengisi perut yang seharian hanya diisi camilan, namun kenyataannya masih jauh, masih sangat lama kami berjalan dan tidak kunjung menemukan tempat yang memungkinkan untuk mendirikan tenda. Padahal waktu itu kami sudah lelah, lapar, namun teringat nasihat bapak penjaga di pos ijin pendakian kami tidak boleh mengeluh, maka kami tetap berjalan meskipun sudah payah, dengan kekuatan yang mungkin kami paksakan. Sampai akhirnya kami tiba di pos ketiga bagi kami, dimana di tempat itu kami melakukan ibadah.
Hari semakin petang, jarum jam menunjukan pukul 17.30 WIB, kami mempersiapkan senter untuk membantu penerangan jalan. Benar kata pepatah bahwa semakin dekat dengan pintu keberhasilan, jalan yang dilalui pun semakin menyakitkan. Jalan yang selanjutnya ini benar – benar menyiksa, menyakitkan, lebih menanjak dibandingkan di zona hutan sebelumnya. Kegelapan mulai datang, sungguh ini jalan yang berat, kami merangkak dengan kekuatan otot kaki yang kami punya, paru – paru selalu berusaha mendapat asupan oksigen dngan cukup, terengah – engah disetiap hembusannya, dan Subhanallah…….. Setelah kami merasakan kesakitan itu, tibalah kami di hamparan rumput yang sangat luas, langit petang menambah kejelasan kenampakan bintang di indera penglihatan kami, seakan bintang menyambut kami dari langit, sungguh luar biasa memang ciptaan Tuhan, saya sempat bersimpuh melepas lelah di tempat itu, namun hanya sejenak tentunya karena kami belum sampai di tempat tujuan, yaitu basecamp.  
Porter dan Koordinator kami berada dibarisan depan, mencari jalan menuju basecamp dan kami harus menambah kewaspadaan karena jalan sedikit berbatu, mengandalkan penerangan dari senter, dan disebelah kiri kami terdapat jurang. Jalan yang selanjutnya ini malah sedikit menurun, bukan menanjak lagi. Beberapa dari kami sempat terpereset di jalanan ini, bukan karena licin namun tergelincir oleh batuan kecil. Setelah itu sampailah kami di suatu tempat untuk beristirahat, sempat kami berpikir bahwa ditempat inilah kami mendirikan tenda, namun dengan berbagai pertimbangan urung dilakukan karena tempatnya tidak terlalu luas dan tidak cukup datar untuk berdirinya dua buah tenda. Porter melanjutkan pencarian jalan tanpa beristirahat bersama kami, dan beberapa saat kemudian dia kembali dan mengisyaratkan bahwa jalannya memang benar, di depan ada sesuatu yang menunjukkan balasan sorotan senter porter kami. Tidak berpikir panjang kami berjalan menyusuri jalan setapak tersebut dan ternyata benar, sampailah kami di hamparan rumput yang luas dan disana telah berkerumun banyak orang, beberapa diantara mereka meyambut kami dengan hangat dan menunjukkan tempat basecamp disebelah tenda mereka.
Ditempat itulah kami ikut mengobrol bersama disamping api unggun mereka, bertukar cerita, ternyata mereka merupakan perkumpulan biarawan dari Kota Batu. Kemudian para lelaki tim kami membangun dua tenda untuk istirahat di malam tersebut. Setelah tenda  didirikan kami memasak dengan ransum yang sudah kami bawa. Memang ini yang saya tunggu, makan, hahaha. Dengan tambahan minuman berupa susu kental manis untuk menambah energi yang sudah terkuras seharian, camilan berupa kacang arab yang diperoleh langsung dari Arab. Setelah makan, pukul 22.00 WIB kami menata diri di dalam tenda, menambah helaian kain ditubuh untuk menangkal dinginnya angin malam , dan selamat malam Arjuna, semoga mimpi indah, menyatu dengan malam Arjuna, semoga kami terjaga dibalik keangkuhanmu, dan siap menyambut wajah elokmu di hari esok…
Alarm berbunyi. Jam menunjukkan pukul 02.30. Kami harus bangun dini hari untuk melanjutkan ke puncak bersama rombongan biarawan. Kami mempersiapkan ransum yang dibawa ke puncak, berdoa bersama, dan berangkat menuju puncak. Kami bertujuh orang diletakkan ditengah barisan, sedangkan dibelakang dan didepan ialah kelompok biarawan. Tepatnya pukul 03.00 kami berangkat dengan menggunakan senter dan baju hangat. Jalan yang dilewatipun semakin menantang. Batu besar. Iya, bebatuanlah yang harus kami lewati dari basecamp menuju puncak. Teman kami ada yang sedikit sesak napas karena kelelahan dan udara dini hari yang masih dingin, namun dengan dorongan semangat teman yang lain, semuanya berjalan lancar. Tak sedikit jumlah kami untuk bersitirahat, meneguk sedikit air jeruk yang telah kami buat. Kata rombongan biarawan perjalanan ini menempuh kurang lebih tiga jam. Dengan jalan bebatuan menanjak seperti itu, sungguh menguras tenaga. Sering terdengar teriakan semangat para biarawan dari belakang, tentunya kamipun juga ikut semangat. Tak kunjung sampai, memang masih jauh ternyata, hingga salah seorang mengatakan ini sudah dekat, sebentar lagi sampai puncak. Dan memang langit sduah mulai cerah dan matahari seolah ingin menampakkan wajahnya, padahal kami masih belum sampai di puncak. Semakin sering istirahat, maka kami juga akan semakin lama sampai di puncak. Dan sampailah kita di jalan lurus, tidak menanjak, dan disebelah kiri terdapat hampatan rumput, sedangkan disebelah kanan kami terbelalak oleh hamparan bumi yang sangat indah, gunung tetangga terlihat, ialah Gunung Welirang dan Gunung Penanggungan. Subhanallah, padahal ini belum sampai di puncak namun keindahannya sempat menahan langkah kaki kami, sejenak memandang hamparan itu. Hampir dekat dengan puncak, tapi lagi – lagi kami belum sampai. Masih jauhkah puncaknya? Padahal matahari sudah nampak. Dengan perlahan akhirnya kami sampai di puncak, namun itu belum puncak sejati, masih di puncak bayangan, Selamat pagi Sunrise Arjuna.. dan puncak sejati itu ternyata ada di bukit seberang, dimana disitu terlihat bendera berkibar.







          

          Karena matahari sudah terbit, kami tidak tergesa – gesa menuju puncak sejati. Kami menghabiskan waktu sedikit menikmati keindahan alam yang nampak. Ketika memandang bendera puncak, rasa lelah hilang, berhamburan ke langit dibawa angin sejuk Arjuna. Senyum menghiasi langkah kaki kami, yang harus melewati bukit lain untuk menuju puncak sejati, puncak harapan yang kini ada dihadapan mata. Di bukit tersebut kami melewati bebatuan besar dan terkadang terdapat bunga pegunungan yang indah. Tak peduli seberapa jauh menyeberang, hanya puncak yang terbersit dipikiran kami. Puncak. Puncak.


            Di penyeberangan bukit itu terlihat gunung yang setia mendampingi Arjuna. Gunung Welirang. Gunung dengan warna tampak putih di bagian puncaknya.




                                                                                                                          
               Di batu besar ini, kami dapat melirik kibaran bendera puncak karena lokasinya yang sudah sangat dekat.


            Daaaaaaannnn… Kami Di Puncak Arjunaaaaa….

            Kami tiba di Puncak ini jam 06.10 WIB dengan cuaca yang cerah. Sinar matahari menghangatkan tubuh kami di atas sana. Dan pastinya kami mengabadikan banyak momen di sana. Rasa lelah yang kami bawa tergantikan dengan rasa puas setelah berhasil menginjakkan kaki di bebatuan Arjuna. Rasa syukur selalu terucap dibibir, betapa indah ciptaan Tuhan yang lain. Betapa elok dan memesonanya panorama alam dari kejauhan. Disana kami dapat melihat pegunungan lain, dan pemandangan menakjubkan yang tak tertutup awan sedikitpun.
            Setelah kami dipuncak selama kurang lebih satu jam, kami memutuskan untuk kembali ke basecamp, dengan persaan lega tentunya. Disana kami sudah puas, sudah menitipkan salam dari kawan yang lain untuk Arjuna, sudah mengabadikan momen dengan banyak jepretan. Sampai jumpa puncak, jika waktu dan Tuhan mengijinkan, aku akan menginjak dan menyapamu kembali. Doakan kami sampai rumah dengan selamat. Dan kamipun naik turun bukit lagi untuk kembali ke basecamp.

            Kini jalan menurun yang harus kami lewati. Tiga orang teman kami berada didepan dan mencari air di tempat lain. Perjalanan turun ke tenda lebih cepat yaitu dua jam sehingga pukul 09.00 WIB kami sudah sampai di tenda. Sembari menunggu para lelaki mencari air, kami memasak untuk sarapan.
            Di hamparan ini terkena paparan panas yang tinggi oleh matahari. Sangat panas sekali. Dan sekitar pukul 11.00 WIB para lelaki datang dengan membawa banyak botol air yang terisi penuh. Setelah itu kami melanjutkan memasak dan setelah itu sarapan. Setelah selesai sarapan kami berkemas – kemas tenda, persiapan pulang tentunya. Pada siang itu tiba – tiba gerimis gunung turun, yang membuat kami menggunakan mantel.



      Pukul dua belas lebih kami melangkah pulang. Dengan gerimis yang mendampingi. Meskipun sudah sampai puncak kami harus tetap waspada karena perjalanan pulang masih jauh dan panjang. “Puncak ialah bonus, tujuan utama ialah pulang dengan selamat”. Jumlah istirahat kami tidak terlalu banyak, tidak sebanyak ketika naik. Jelas karena jalannya lebih banyak turun dan beban di tas sudah sedikit berkurang. Kami melewati jalan yang sama dengan jalur naik. Langkah kami terhitung cepat, karena kami bisa dikatakan berlari ketika turun, walaupun banyak dari kami yang sempat terjatuh dan terpeleset. Kembali kami melewati hamparan rumput nan indah di siang hari, namun kami tidak berhenti disana, kami melanjutkan perjalanan dengan harapan sampai di persawahan tidak terlalu larut malam. Akhirnya setelah sekian lama kami melewati hutan – hutan, pos 3, pos 2, dan pos 1 tibalah kami di sawah. Sawahlah zona yang kami tunggu – tunggu. Alhamdulillah lega ketika sampai disana. Kami beristirahat sejenak disawah, menghabiskan air yang tersisa di dalam tas. Tidak lama lagi kami sampai di jalan raya, gerbang pemberangkatan menuju Arjuna.
            Sekitar pukul 17.30 kami sampai di gerbang, namun kami harus berjalan kaki menuju parkir motor yaitu di pos ijin pendakian. Hari semakin petang, kami terpisah cukup jauh dan teman kami di belakang mendapat tumpangan mobil pick up menuju Batu. Sesampainya dipos lagi – lagi tidak menjumpai bapak penjaga, Akhirnya kami berpamitan ke pemilik warung dan menaruh sampah yang kami bawa dari puncak. Pukul 18.30 kami meninggalkan pos, dan tujuan selanjutnya ialah singgah di rumah saya yang kebetulan berada di Batu. Sampai rumah sekitar pukul 19.30. Di rumah kami makan, bersih diri, dan sempat tertidur. Karena kepentingan di Malang esok hari, maka pada malam itu juga kami kembali ke Malang. Sampai di Malang sekitar pukul 22.30, dan kami berpencar ke rumah masing – masing untuk beristirahat.
Tak ada salahnya kita menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang lain. Yang patut kita lakukan ialah mensyukuri atas apa yang diberi Tuhan kepada kita. Terima kasih Arjuna sudah merelakan tubuhmu untuk kami injak, menjaga kami disetiap langkah walaupun hutanmu lebat dan sangar, kehangatan yang kau beri akan selalu kami ingat, kini aku bisa memandangmu dari bawah dengan senyum manis, menatap puncakmu dengan teringat masa ketika kami berada disana.
            Sekian cerita saya dipendakian Gunung Arjuna. Semoga ini bukan pendakian terakhir bagi saya, karena masih banyak gunung – gunung yang lain yang belum pernah saya coba. Semangat…dan selamat mencoba…

No comments:

Post a Comment